MINYAKITA Gagal Jadi Penyelamat Pasar: Langka di Cibadak, Harga Mencekik UMKM hingga Rp23 Ribu!

Minyak Goreng Merk Minyak Kita di Pasar Cibadak Sukabumi. Sabtu, (6/6/26).

SUKABUMISATU.com, CIBADAK – Digadang-gadang sebagai peluru utama pemerintah untuk menstabilkan harga pangan dan menjamin keterbatasan pasokan domestik, produk minyak goreng kemasan MINYAKITA justru berbalik menjadi hantu menakutkan bagi masyarakat kecil. Alih-alih bertindak sebagai penyeimbang harga di pasar domestik, keberadaan minyak milik Kementerian Perdagangan (Kemendag) ini kini kian misterius alias langka di pasar-pasar tradisional Sukabumi.

​Pantauan langsung jurnalis SUKABUMISATU.com di Pasar Cibadak, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (6/6/2026), mengungkap fakta pahit. Ironi di atas kertas yang mengklaim realisasi distribusi Domestic Market Obligation (DMO) nasional telah melampaui 49 persen seolah runtuh total saat dihadapkan pada realita tajam di lapangan. Warga dan pedagang harus memutar otak akibat kelangkaan akut yang dibarengi dengan lonjakan harga yang ugal-ugalan.

Jeritan Grosir: Stok Menipis Sejak Sebelum Isu Dolar

​Arul, salah seorang pedagang grosir sembako di Pasar Cibadak mengaku kewalahan mendapatkan pasokan komoditas yang berbahan baku Crude Palm Oil (CPO) murni ini. Pasokan yang diklaim melimpah oleh pusat sama sekali tidak tercermin di gudang-gudang pasar lokal.

​”Agak susah sih (peredarannya). Malah sejak sebelum isu dolar naik juga pasokan sudah mulai seret. Dulu stok melimpah, sekarang menipis akibat kelangkaan. Mau tidak mau harga modal ikut naik, per dus kami jual Rp140 ribu. Kami pedagang seperti dipaksa memaksakan diri agar barang ini tetap ada,” keluh Arul saat ditemui di lapak grosirnya.

Baca Juga  Jelang Hari Listrik Nasional ke-80, PLN Cibadak Tebar Diskon Tambah Daya, Warga Antusias!

UMKM Terbakar Harga: Dari Rp19 Ribu Melonjak ke Rp23 Ribu per Kantong!

​Dampak paling brutal dari carut-marutnya distribusi Minyakita ini langsung menghantam sektor usaha mikro. Ata Supriansyah, seorang pedagang nasi goreng di Cibadak, meluapkan kekesalannya akibat melonjaknya harga minyak yang tidak masuk akal. Angka ini dinilai telah keluar jauh dari koridor Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dijanjikan pemerintah.

​”Kami sangat keberatan, naiknya terlalu tinggi dan mendadak! Dari yang asalnya Rp19.000, sekarang melompat jadi Rp23.000 per kantong. Ini jelas merusak hitungan modal dan tidak stabil dengan penghasilan kami sehari-hari,” tegas Ata Supriansyah dengan nada getir.

​Akibat susahnya mencari barang dan mahalnya harga, Ata terpaksa memotong kuota belanjanya demi bertahan hidup. “Biasanya beli dua kantong, sekarang terpaksa cuma beli satu kantong karena barangnya memang langka dan susah sekali dicari di pasar.”

Baca Juga  Harga Ayam di Pasar Cibadak Meroket Tembus Rp48 Ribu, Pedagang dan Emak-emak Menjerit!

Emak-emak dan Pemilik Warung Kesal: “Mau Beli Saja Susah, Apalagi Minta Bantuan!”

​Kondisi serupa dialami oleh para ibu rumah tangga sekaligus pelaku usaha kecil. Ibu Elin, seorang ibu rumah tangga yang juga mengelola warung eceran, mengaku telah memutari seluruh pelosok kios di Pasar Cibadak, namun hasilnya nihil.

​”Kekosongan di mana-mana. Tiap kios pada enggak ada, kosong! Kenapa bisa begini? Saya butuh tiga kantong sehari buat keperluan jualan dan dapur. Harganya sudah mahal, barangnya pun langka,” ketus Ibu Elin.

​Ketika ditanya mengenai harapannya kepada pemerintah, Ibu Elin melontarkan sindiran yang cukup menohok moral birokrasi pangan saat ini.

​”Uh, kesel jadinya! Logikanya, kita mau beli pakai uang sendiri saja susahnya setengah mati, apalagi kalau mau minta bantuan ke pemerintah!” celetuk Ibu Elin sambil tertawa kecut.

Catatan Kritis Redaksi: Ke Mana Larinya 49% Realisasi DMO?

​Klaim mentereng Kemendag melalui akun media sosial resminya yang memamerkan kesuksesan implementasi Permendag No. 43 Tahun 2025 patut dipertanyakan efektivitasnya. Pusat boleh saja berbangga dengan angka distribusi DMO yang katanya melampaui target minimal 35 persen lewat Perum BULOG dan BUMN Pangan. Namun, jeritan di Pasar Cibadak hari ini menjadi bukti otentik adanya sumbatan sistemik yang tak terselesaikan.

Baca Juga  Harga Sembako Naik, Daya Beli Jatuh — Pedagang Pasar Cibadak Terjepit Program MBG

​Jika pengawasan rantai pasok domestik dari para eksportir kelapa sawit ini lemah, maka Minyakita yang esensinya diciptakan sebagai “rem darurat” penyeimbang harga komoditas pangan komersial akan selamanya gagal. Masyarakat Sukabumi tidak butuh infografis keberhasilan di media sosial; yang mereka butuhkan adalah kepastian barang tersedia di pasar dengan harga yang manusiawi!

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *