Dari Papan Tulis ke Jalan Raya: Kisah Guru Sukabumi Berlari 180 Km demi Beasiswa Rp1 Miliar

Kanan: Kelompok alumni di Garis Awal Kiri: Jundi Amir Syuhada di KM 35,2 Terminal Jatijajar.

SUKABUMISATU.com — Setiap pagi, Jundi Amir Syuhada berdiri di depan papan tulis SMPIT Adzkia 2 Kota Sukabumi. Tugas utamanya jelas: mengajar, membimbing, dan menemani para siswa merajut mimpi. Namun, pelajaran terpenting yang ia berikan tidak hanya disampaikan di dalam ruang kelas, melainkan di atas aspal jalan raya sepanjang 180 kilometer.

​Jundi memilih kembali melangkah dalam ajang lari lintas kota ITB Ultra Marathon 2026. Bersama komunitas Ikatan Alumni Informatika ITB (IAIF ITB), ia menempuh rute Jakarta–Bandung bukan sekadar untuk mengejar waktu atau medali, melainkan demi satu misi sosial: penggalangan dana Beasiswa ALIF dengan target Rp1 miliar.

​Dari Relay 16 Naik Kelas ke Relay 8

​Perjalanan ini menjadi tahun kedua bagi Jundi membawa misi pendidikan di lintasan lari. Pada edisi 2025 lalu, ia telah menyelesaikan tantangan Jakarta–Bandung lewat format relay 16, di mana jarak 180 kilometer dibagi bersama 16 pelari estafet.

​Tahun ini, tantangan dinaikkan. Jundi mengambil porsi lebih besar dalam format relay 8, yang berarti beban jarak tempuh setiap pelari bertambah dua kali lipat.

​“Relay itu persis seperti dunia pendidikan. Kita tidak bisa berjalan sendirian. Yang terpenting adalah setiap orang menyelesaikan bagiannya dengan sebaik-baiknya, lalu menyerahkan tongkat estafet kepada orang berikutnya,” ujar Jundi.

​Misi Rp1 Miliar untuk Masa Depan Anak Muda

​Berhadapan dengan siswa SMP setiap hari membuat Jundi memahami betul bahwa pendidikan adalah kunci pembuka kesempatan. Ketika melihat banyak mahasiswa yang membutuhkan dukungan finansial agar tidak putus kuliah, ia merasa perjuangan itu harus diperluas hingga ke luar dinding sekolah.

​Target dana Rp1 miliar yang diusung bersama IAIF ITB diakuinya sebagai angka yang besar. Namun, seperti halnya lari estafet, target tersebut hanya bisa dicapai melalui kolaborasi dan kepedulian bersama.

​“Target Rp1 miliar ini bukan tentang saya pribadi. Ini tentang bagaimana semakin banyak orang merasa bisa ikut memperjuangkan pendidikan. Ada yang berlari, ada yang berdonasi, dan ada yang membantu menyebarkan informasi. Semuanya punya arti,” tuturnya.

​Mengajar Lewat Langkah Kaki

​Bagi lingkungan SMPIT Adzkia 2 Kota Sukabumi, aksi Jundi memberikan warna tersendiri. Ia tidak hanya mengajarkan teori tentang ketangguhan dan kedisiplinan di dalam kelas, tetapi juga mempraktikkannya secara nyata di jalanan.

​Langkah kaki Jundi dari Jakarta menuju Bandung membawa pesan kuat dari Sukabumi: bahwa perjuangan untuk pendidikan tidak boleh berhenti. Di balik tiap kilometer yang ia tempuh, ada harapan agar semakin banyak anak muda Indonesia yang berkesempatan sampai di garis awal masa depan mereka.

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *