SUKABUMISATU.com – Sudah hampir satu tahun, warga Kampung Leuwi Peti, Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, hidup dalam kondisi memprihatinkan. Sejak Bendungan Cikolawing ambruk, aliran air yang dulu menjadi sumber kehidupan warga berhenti total.
Selokan yang biasanya mengalirkan air jernih kini kering, berlumut, dan mengeluarkan bau tak sedap. Saat malam tiba, udara sekitar dipenuhi nyamuk dan aroma menyengat yang membuat warga sulit beristirahat.
“Air udah nggak jalan hampir setahun. Kami udah sering kerja bakti, tapi kan ini bukan hal yang bisa diselesaikan warga. Harusnya pemerintah turun tangan. Dulu sempat ngalir sedikit, tapi ketimpa urugan tol, malah makin parah,” keluh Ujang Yusman (68), warga setempat.

Kekeringan ini membuat puluhan hektare sawah terancam gagal panen. Beberapa petani bahkan terpaksa mengubah lahan sawah menjadi lahan darat karena irigasi tak lagi berfungsi.
“Kalau malam, baunya luar biasa. Banyak nyamuk juga. Anak-anak kadang masih main dan mandi di sungai, saya khawatir kalau tiba-tiba air besar datang,” ujar Nanang Ponco (59).
Melihat kondisi tersebut, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi, Iwan Ridwan, turun langsung meninjau lokasi bendungan dan jaringan irigasi. Ia mengakui bahwa banyak saluran yang rusak akibat longsor dan perlu segera dinormalisasi.
“Kondisi ini darurat. Saya sudah ajukan ke pemerintah daerah agar tahun ini bisa direalisasikan pembangunannya, supaya petani bisa kembali memanfaatkan air tahun depan,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Cibadak, Mulyadi, yang ikut mendampingi kunjungan DPRD bersama unsur Forkopimcam, menilai kerusakan Bendungan Cikolawing sudah sangat parah dan berdampak luas.
“Dampaknya bukan hanya ke pertanian, tapi juga ke kesehatan lingkungan. Bau menyengat dan banyaknya nyamuk sudah sangat mengganggu warga. Kami berharap pemerintah kabupaten segera turun tangan,” ujarnya.
Dari data sementara, sekitar 50 hektare lahan sawah kini tidak terairi, dan 15 hektare di antaranya sudah berubah fungsi menjadi lahan darat. Warga berharap, tahun depan Bendungan Cikolawing bisa kembali mengalirkan air—bukan hanya untuk sawah mereka, tapi juga untuk mengembalikan kehidupan yang nyaris kering di kampung ini.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra










