SUKABUMISATU.com, Cibadak — Sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Minggu, (6/9/26).
Kondisi tersebut membuat sejumlah warga dan pedagang di kawasan Pasar Cibadak kaget. Abu atau debu terlihat menempel pada kendaraan, barang-barang, hingga lantai dan teras tempat usaha warga.
Salah seorang petugas parkir di sekitar Pasar Cibadak, Muklis (40), mengaku baru menyadari adanya debu yang menempel pada kendaraan pada malam hingga dini hari.
“Malam. Sepertinya dari malam, kemarin. Mungkin sejak jam 12-an gitu,” ujar Muklis saat ditemui, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut cukup mengejutkan karena kendaraan yang sebelumnya bersih tiba-tiba terlihat kotor akibat adanya debu yang menempel.
“Iya kaget juga. Kok tiba-tiba ada kotor motor ini,” katanya.
Untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung pasar, Muklis kemudian membersihkan area parkir dan kendaraan yang terkena debu. Ia juga mengingatkan pentingnya menggunakan masker saat berada di luar ruangan.
Abu Terlihat Menumpuk di Teras
Hal serupa dirasakan warga lainnya, Pak Ahman, yang mengaku kaget ketika melihat kondisi teras rumah atau tempat usahanya dipenuhi abu. “Tadi kaget juga lihat abu di teras sampai tebal,” ungkapnya.
Ia menyebut abu yang terlihat tidak berwarna putih bersih, melainkan cenderung kehitaman dan membuat permukaan menjadi kotor. “Agak hitam-hitam. Kotor agak hitam-hitam,” ujarnya.
Pak Ahman mengaku mengetahui informasi bahwa debu tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau setelah mendapat informasi dari warga sekitar.
“Saya enggak tahu, ditanya-tanya katanya karena Krakatau-nya meletus,” tuturnya.
Selain mengotori lingkungan dan kendaraan, ia juga mengaku sedikit merasakan gangguan pada pernapasan. Karena itu, ia mengaku akan menggunakan masker sebagai perlindungan saat beraktivitas di luar ruangan.
Mata Perih hingga Rasa Pahit di Mulut
Keluhan dampak fisik akibat abu vulkanik juga dirasakan oleh warga Pasar Cibadak lainnya, Dirman (65). Ia mengaku matanya terasa perih dan gatal sejak sore hari sebelumnya akibat terpapar debu di luar ruangan.
“Itu perasaan dari kemarin sore, masuk ke mata itu perih. Kalau malam gatal. Kurang tahu asalnya dari mana, apa polusi atau gimana,” tutur Dirman saat ditemui mengenakan masker dan kacamata.
Menurutnya, ketebalan debu yang terbawa angin musim kemarau hingga wilayah Sukabumi ini cukup mengganggu aktivitas warga, terutama para pengendara sepeda motor.
“Agak terganggu, harus pakai kacamata dan harus pakai helm tertutup, pakai masker. Kalau enggak pakai, ya mungkin debunya perih kena mata dan kalau ke mulut juga agak pahit,” jelasnya.
Dirman pun mengimbau masyarakat luas untuk memprioritaskan perlindungan diri dan kesehatan selama beraktivitas di luar rumah.
“Diharapkan kalau untuk menjaga kesehatan, warga masyarakat sekitarnya harus pakai masker, kacamata, dan helm tertutup,” pungkasnya.
BPBD Imbau Warga Gunakan Masker
Sementara itu, Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul adanya laporan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah.
“Dari informasi teman-teman P2BK di setiap kecamatan, sebagian tempat sudah mulai terdampak abu vulkanik Anak Krakatau,” kata Daeng dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/9/2026) malam.
BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah.
Khusus bagi pengendara sepeda motor, perlindungan tambahan juga disarankan, terutama pada bagian mata.
“Diharapkan masyarakat bisa menggunakan masker saat berkegiatan di luar rumah, dan pengendara sepeda motor juga bisa memakai helm yang safety dan menutupi area mata,” ujarnya.
Daeng menambahkan, BPBD Kabupaten Sukabumi masih menunggu laporan dari petugas P2BK di masing-masing kecamatan untuk mengetahui wilayah yang terdampak serta perkembangan kondisi di lapangan.
“Kami meminta rekan-rekan P2BK untuk memantau dan melaporkan situasi yang terjadi di lapangan,” katanya.
Reporter: Suhendi Soex/Mawaldi












