Sukabumi dalam Ingatanku: Kota yang Terus Berkembang

Alun-alun Kota Sukabumi.

Oleh: Kang Warsa

Kota Sukabumi semakin berkembang dan bertumbuh, baik kuantitas juga kualitasnya. Dari tiga kecamatan menjadi tujuh kecamatan, dari cara hidup tradisional ke cara yang kita pandang lebih modern.

Walakin, di sepanjang lini masa kehidupan urban, ada satu pertanyaan sederhana, apakah perkembangan kota ditujukan untuk benar-benar menempatkan manusia sebagai manusia atau justru telah membawa manusia pada bentuk anomie yang hidup tanpa panduan jelas tentang bagaimana harus bertindak?

Kendati kita telah banyak menyaksikan perubahan dan pertumbuhan di kehidupan perkotaan, namun harus diakui perubahan ini pada dasarnya sama sekali tidak sepenuhnya kita rasakan hanya karena kita memang larut di dalamnya. Ini ibarat perputaran bumi dengan kecepatan hampir 1.700 km per jam, sama sekali tidak kita rasakan putarannya hanya karena kita ikut bergerak bersama bumi.

 

Kita seolah hanya tahu, tiba-tiba Kota Sukabumi telah menjadi seperti yang kita rasakan saat ini; jalan dipadati kendaraan di jam tertentu, perkampungan telah diramaikan oleh minimarket, dan setiap rumah telah memiliki barang-barang produk teknologi terkini sebagai bukti kehidupan memang telah maju dari beberapa waktu lalu.

Pusat kota semakin memperlihatkan bahwa dirinya benar-benar kota yang sulit diusik kendati pemerintah telah berupaya menciptakan simpul-simpul pusat keramaian baru seperti terminal di Jalan Lingkar Selatan dan pusat kuliner di sepanjang jalan baru ini. Namun, kota lama justru tetap kokoh berdiri.

Lapang Merdeka yang hanya ramai di hari tertentu di tahun 80-90an, saat ini semakin ramai dengan durasi waktu yang terus bertambah. Sampai pukul 22.00 jika cuaca cerah, ruang publik ini tetap menjadi magnet pemikat yang ramai dikunjungi oleh warga dari kota dan kabupaten.

Melangkah lebih jauh dari Lapang Merdeka, keramaian pusat pertokoan di sepanjang Jalan Raya. Deretan etalase kaca, papan reklame, dan hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang bercampur deru mesin kendaraan seolah menegaskan bahwa urat nadi ekonomi kota ini tidak pernah benar-benar tidur.

Dalam pandangan sosiolog Guy Debord mengenai Masyarakat Tontonan (Society of the Spectacle), pusat pertokoan ini telah bersalin rupa menjadi representasi visual dari kapitalisme itu sendiri, di mana warga kota hadir untuk membeli kebutuhan primer, sekaligus mengonsumsi citra kemewahan, melihat, dan dilihat sebagai bagian dari masyarakat modern.

Baca Juga  DPRD Tegaskan Tak Pernah Tolak Program Wakaf Ayep Zaki, Soroti Teknis Pengelolaan

Hal ini paling nyata terlihat pada menjamurnya lanskap kuliner modern di berbagai sudut kota. Kafe-kafe dengan desain industrialis, restoran cepat saji, hingga kedai kopi kekinian mendominasi ruang-ruang interaksi, mengubah fungsi fundamental makan dari pemenuhan kebutuhan biologis menjadi ajang penegasan status kelas sosial.

Menariknya, di tengah gempuran modernitas tersebut, lahir fenomena perpaduan antara kuliner urban dan tradisional. Jajanan masa lalu yang lekat dengan masyarakat agraris dan kelas pekerja seperti bandrek, bandros, atau surabi kini dikemas ulang dengan sentuhan keju mozzarella, matcha, atau red velvet, disajikan dalam ruang berpendingin.

Secara sosiologis, apa yang terjadi adalah bentuk komodifikasi budaya. Tradisi direduksi menjadi simulakra, sebuah salinan hiper-realitas yang kehilangan akar orisinalitasnya, diciptakan semata-mata untuk memenuhi hasrat konsumsi kelas menengah urban yang merindukan sensasi nostalgia artifisial.

Menyadari besarnya daya tarik visual dari komodifikasi tata ruang ini, pemerintah daerah pun tampak semakin bersemangat memoles wajah wilayah kota lama. Trotoar diperlebar dan dipercantik, lampu-lampu jalan dipasang, dan berbagai pernak-pernik dekoratif disebar di sepanjang jalan utama untuk menciptakan atmosfer kota.

Pembangunan dan pemolesan ini memang mempercantik estetika ruang, namun jika dibedah lagi, kosmetik urban semacam ini kerap kali mengaburkan ketimpangan struktural. Ruang kota direkayasa sedemikian rupa untuk memanjakan visual, sementara persoalan mendasar tentang inklusivitas ruang bagi seluruh lapisan masyarakat sering kali terlupakan.

Faktanya, kosmetik kota lama ini sangat berhasil menjadi magnet, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah pinggiran. Cahaya gemerlap lampu kota, deretan franchise modern, dan pedestrian yang rapi menjadi ilusi kemajuan yang memukau serta menyilaukan warga pinggiran, menarik mereka masuk ke dalam pusaran gaya hidup pusat kota.

Akibat tersedotnya perhatian ke pusat, wilayah pinggiran menjadi semakin kurang diminati. Ruang-ruang yang jauh dari pusat keramaian ini dianggap sebagai representasi dari ketertinggalan, sebuah tempat yang membosankan dan tidak mampu menawarkan panggung eksistensi yang layak bagi generasi mudanya.

Baca Juga  Akhir Tahun, KPU Kota Sukabumi Borong 7 Penghargaan dari KPU Jabar

Kebosanan terhadap wilayah pinggiran ini sangat selaras dengan teori ketergantungan ruang atau center-periphery (pusat-pinggiran). Segala bentuk sumber daya, inovasi, investasi, dan perhatian publik ditarik secara agresif ke pusat kota, membiarkan wilayah pinggiran tetap stagnan tanpa ada rekayasa ruang yang bermakna bagi penghuninya.

Tragedi terbesar dari persepsi “kebosanan” ini adalah hilangnya apresiasi masyarakat terhadap ketenangan dan kelambanan yang sebenarnya menjadi karakter inheren sebuah desa. Masyarakat kita saat ini telah terjebak dalam fetisisme kecepatan dan kerumunan, sehingga menganggap kesepian ruang pinggiran sebagai sebuah bentuk kegagalan eksistensial.

Paradoks yang sangat ironis justru akan kita temukan jika mengomparasikannya dengan tren sosiologis di negara-negara maju saat ini. Ketika warga kita berlomba-lomba meninggalkan desa demi gemerlap aspal dan lampu neon, masyarakat kelas menengah di belahan dunia maju justru mulai melakukan gerakan yang bertolak belakang.

Di negara maju, tengah terjadi gelombang counter-urbanization atau bentuk pelarian dari penatnya kehidupan metropolis. Masyarakat urban di sana mulai mencari suaka di wilayah pinggiran atau desa yang masih rapat dengan vegetasi alami, udara bersih, dan pola kehidupan komunal yang dirasa lebih otentik.

Georg Simmel telah meramalkan kondisi psikologis ini jauh hari. Masyarakat urban yang terus-menerus dibombardir oleh stimulus sensorik dari keramaian dan persaingan kota pada akhirnya akan mengalami kelelahan mental, mengembangkan sikap blasé (mati rasa), dan merindukan ketenangan alamiah yang telah direnggut dari mereka.

Oleh karena itu, desa dengan pepohonan rindangnya di negara maju tidak lagi dipandang sebagai ruang yang membosankan atau tertinggal, melainkan telah menjelma menjadi kemewahan ekologis. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa kembali ke alam adalah bentuk pemulihan paling rasional atas keterasingan (alienasi) manusia dari akar biologisnya.

Kota Sukabumi mungkin belum sepenuhnya mencapai fase kelelahan ekstrem tersebut. Saat ini, euforia modernitas dan gaya hidup urban masih menjadi panglima, membuat kita abai bahwa vegetasi alami di wilayah pinggiran kita sebenarnya memiliki nilai filosofis tinggi, yang kini hanya menunggu waktu untuk digerus oleh perluasan beton perumahan.

Baca Juga  Kebakaran Hebat Landa Pabrik Per Mobil di Citamiang Sukabumi

Jika pemerintah dan masyarakat terus memusatkan pandangan dan anggaran hanya pada pemolesan fisik pusat kota, kita sedang bergerak menuju homogenisasi ruang. Kota Sukabumi akan kehilangan jiwa lokalnya yang khas, berubah menjadi sekadar replika generik dari kota-kota metropolis yang bising, seragam, dan mekanis.

Pada kondisi jenuh tertentu nanti, keramaian pusat pertokoan di Jalan Raya dan pusat kuliner modern itu tidak akan lagi mampu menutupi rasa sepi di tengah kerumunan. Interaksi antarwarga perlahan menjadi murni transaksional, kehilangan kohesi sosial organik yang dulu sangat lekat dan menghangatkan masyarakat Sunda.

Oleh karena itu, arah perkembangan kota Sukabumi harus mulai dikritisi dan dievaluasi ulang secara fundamental. Membangun sebuah kota bukan melulu tentang memasang pernak-pernik lampu estetik atau memfasilitasi masuknya merek-merek global, melainkan bagaimana menciptakan keseimbangan spasial yang menempatkan manusia sebagai subjek yang utuh.

Kita harus segera belajar merawat wilayah pinggiran bukan sebagai halaman belakang yang membosankan, melainkan sebagai suaka ekologis untuk masa depan. Sukabumi harus menjadi kota yang mampu merayakan modernitas secara proporsional di pusatnya, tanpa harus membunuh ketenangan, kearifan, dan rapatnya vegetasi alami di pinggirannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *