SUKABUMISATU.com – Ratusan siswa di Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, harus belajar dalam kondisi penuh keterbatasan. Dua sekolah di wilayah ini, yakni SD Negeri Cilimus dan SMP Negeri 5 Jampangtengah Satu Atap, mengalami kerusakan parah hingga mengancam keselamatan para peserta didik.
Di SD Negeri Cilimus, yang berlokasi di Kampung Cilimus, Desa Nanggerang, bangunan sekolah nyaris tidak bisa digunakan lagi. Dari enam ruang kelas yang ada, kini hanya tersisa satu ruang kelas yang masih bisa dipakai. Selebihnya roboh, atap ambruk, dan dinding retak parah.
“Kami sudah ajukan permohonan perbaikan sejak lama, tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Anak-anak akhirnya harus belajar menumpang di SMP Negeri 5 dan Madrasah Diniyah,” ungkap Habudin, salah seorang guru SD Negeri Cilimus, Kamis (18/9/2025).
Ironisnya, bangunan yang digunakan untuk menampung siswa SD pun tak kalah memprihatinkan. SMP Negeri 5 Jampangtengah Satu Atap juga tengah menghadapi kondisi serupa: satu ruang kelas ambruk, dua ruang lainnya bocor parah, bahkan berpotensi roboh karena rangka kayu yang lapuk dimakan usia.
“Kalau hujan deras, air masuk ke kelas. Anak-anak ketakutan, dan kami kadang terpaksa meliburkan mereka daripada mengambil risiko,” kata Pahrul Suganda, guru SMPN 5 Jampangtengah Satu Atap.
Kini, 131 siswa SD Negeri Cilimus dan puluhan siswa SMPN 5 belajar dalam rasa was-was. Orang tua murid pun cemas melepas anak-anak mereka ke sekolah yang bangunannya tidak lagi layak huni.
Masyarakat berharap, pemerintah daerah melalui dinas terkait segera turun tangan. Kerusakan yang sudah dibiarkan sejak 2003 ini bukan hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga mengancam keselamatan generasi muda di Jampangtengah.
Sementara itu, para guru masih bertahan dengan segala keterbatasan. “Kami hanya ingin anak-anak belajar dengan tenang, tanpa takut atap runtuh,” ucap Habudin lirih.
Situasi ini menjadi potret buram dunia pendidikan di pelosok Sukabumi: di tengah semangat anak-anak untuk tetap bersekolah, mereka justru harus berjibaku dengan bangunan yang nyaris roboh.
Reporter: Suhendi Soek
Editor: Demi Pratama Adiputra







