SUKABUMISATU.com – Pabuaran, Di tengah kabut pagi yang mulai memudar, suara kayu berderak dan riak air sungai menjadi irama rutin di bantaran Sungai Cikaso, perbatasan Kecamatan Jampang tengah dan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Sejak jembatan gantung penghubung dua desa putus diterjang luapan sungai pada Desember 2024 lalu, satu-satunya akses masyarakat adalah rakit sederhana buatan warga.
Rakit ini bukan sekadar alat penyeberangan. Ia telah menjelma menjadi simbol harapan, kemandirian, dan ketangguhan masyarakat desa Bantar panjang dan Sirnasari dalam menghadapi dampak bencana yang hingga kini belum sepenuhnya dipulihkan.
“Kalau tidak pakai rakit, kami harus memutar 15 kilometer. Anak sekolah bisa telat semua, warga pun susah antar hasil tani ke pasar,” tutur Hatin (48), salah satu petugas penyeberangan yang setiap hari berjaga sejak subuh hingga malam.
Bencana Belum Benar-Benar Berlalu
Jembatan gantung Tegalsangar yang sebelumnya dibangun pada 2018 lewat program Bakti TNI dan CSR perusahaan lokal, hanyut pada 4 Desember 2024 saat hujan deras memicu luapan besar Sungai Cikaso. Putusnya jembatan seketika memutus mobilitas dua kecamatan, menghentikan aktivitas ekonomi, dan menyulitkan ratusan pelajar yang harus menyeberang untuk bersekolah.
Warga tak menunggu lama. Dalam waktu satu bulan pascabencana, rakit sederhana dibuat secara gotong royong. Bermodal drum bekas, papan kayu, dan seutas tali penyeimbang, rakit darurat ini mulai beroperasi – bukan tanpa risiko.
“Kalau air naik, kami hentikan semua penyeberangan. Sudah ada yang hampir hanyut waktu arus deras,” ujar Hatin sembari mengecek tali tambang rakit yang mulai usang.
Penyeberangan Seikhlasnya, Demi Jalan Lingkungan
Operasional rakit dikelola secara kolektif. Biaya yang dipungut dari pengguna tidak dipatok—cukup seikhlasnya. Namun dalam sehari, bisa terkumpul hingga Rp100 ribu yang langsung digunakan untuk membeli material membangun jalan lingkungan yang rusak.
Pelajar seperti Azam, siswa kelas 5 SDN 3 Bantarpanjang, kini mengawali harinya lebih awal dari teman-teman seusianya. Ia harus menunggu giliran rakit, kemudian menyusuri jalan tanah menuju sekolah.
“Kadang takut, tapi udah biasa. Pingin banget ada jembatan lagi,” ujar Azam lirih sambil memeluk tas ranselnya.
Menanti Kepedulian Pemerintah
Sudah lebih dari tujuh bulan sejak bencana melanda. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda dimulainya pembangunan kembali jembatan gantung. Warga berharap, pemerintah kabupaten maupun provinsi segera merespon kebutuhan vital ini.
Menurut catatan tim Sukabumisatu.com, daerah-daerah pascabencana seperti Pabuaran dan Jampang tengah masih masuk dalam zona prioritas pemulihan infrastruktur pasca bencana. Namun alokasi anggaran dan proses realisasi tampak berjalan lambat.
Sementara itu, roda kehidupan warga terus bergantung pada rakit sederhana yang hanya bisa membawa dua motor dalam satu kali seberang.
Penutup
Bukan hanya soal menyeberang sungai, tapi tentang bagaimana masyarakat mempertahankan martabat dan kelangsungan hidup mereka pasca bencana. Rakit darurat ini mungkin kecil dan ringkih, tapi ia membawa beban besar: pendidikan, ekonomi, dan harapan satu kampung.
Dan di bawah langit kelabu Sungai Cikaso, harapan itu masih terapung—menunggu untuk disambut kebijakan yang berpihak.
LIPUTAN KHUSUS | PASCA BENCANA
Reporter: Aris
Editor: Demi Pratama Adiputra











