Jumat,1 Mei 2026
Pukul: 05:30 WIB

Penebangan di Tengah Bencana Hutan Hanjuang Jampang Disorot, Perhutani Dinilai Tak Punya Nurani

Penebangan di Tengah Bencana Hutan Hanjuang Jampang Disorot, Perhutani Dinilai Tak Punya Nurani

Selasa, 27 Januari 2026
/ Pukul: 19:06 WIB
Selasa, 27 Januari 2026
Pukul 19:06 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Di saat bencana hidrometeorologi terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia, aktivitas penebangan hutan justru masih berlangsung di kawasan Hutan Hanjuang, Jampang, Kabupaten Sukabumi. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius warga, mengingat musim hujan masih berlangsung dan ancaman longsor dan banjir mengintai wilayah di bawah lereng hutan.

Deru mesin gergaji terdengar di tengah tanah yang kian rapuh. Padahal, hutan memiliki fungsi vital sebagai penyangga ekosistem, penahan air, dan pelindung keselamatan warga. Ketika tutupan hutan berkurang, risiko bencana tak lagi sekadar potensi, melainkan tinggal menunggu waktu. Meskipun hutan tersebut adalah Hutan Produksi milik BUMN.

Aktivis lingkungan Jimmy Afandi dari Himapilihan menilai aktivitas penebangan di tengah situasi rawan bencana sebagai bentuk kelalaian serius dalam pengelolaan hutan.

Baca Juga  Walhi Minta Polri Turun Tangan Selidiki Penyebab Bencana Alam Sukabumi

“Ini bukan hanya soal kayu dan produksi. Ini soal keselamatan manusia. Kalau penebangan tetap dilakukan di tengah ancaman bencana, Perhutani bisa dikatakan tak punya nurani,” tegas Jimmy, Selasa, (27/1/2026).

Menurutnya, Hutan Hanjuang merupakan kawasan penyangga penting bagi wilayah Jampang. Penebangan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi cuaca ekstrem berpotensi memperparah dampak bencana di kemudian hari.

“Meskipun Perhutani memiliki hak menebang, tapi setidaknya punya empati pada lingkungan yang saat ini dalam fase kritis. Jika sampai ada apa-apa, yang menanggung risikonya bukan pihak pengelola, melainkan masyarakat kecil yang tinggal di sekitar wilayah hutan, ” lanjutnya.

Baca Juga  Hujan Deras Picu Banjir Bandang di Kabandungan, 2 Hektare Sawah Terendam Luapan Sungai Citamiyang

Jimmy juga mengaitkan kondisi di Jampang dengan rentetan bencana alam yang terjadi belakangan ini di sejumlah daerah, seperti banjir dan longsor di beberapa wilayah Sumatera serta kawasan Bandung Barat yang dalam berbagai kajian dan temuan lapangan kerap dipicu oleh pembalakan hutan dan alih fungsi lahan.

Di Sumatera, kawasan hulu yang kehilangan tutupan hutan disebut memperparah banjir bandang yang merendam permukiman. Sementara di Bandung dan sekitarnya, berkurangnya kawasan resapan air membuat hujan dengan intensitas tinggi langsung berujung genangan, longsor, dan kerusakan infrastruktur.

“Kita seharusnya belajar dari bencana-bencana itu. Jangan menunggu Jampang bernasib sama baru semua pihak tersadar,” ujar Jimmy.

Baca Juga  Tambang Pasir Besi Cikawung Kembali Beroperasi: Jalan Rusak, Ekosistem Terancam, Izin Dipertanyakan

Ia juga menyoroti adanya seruan moratorium penebangan hutan oleh Gubernur Jawa Barat. Menurutnya, kebijakan tersebut harus benar-benar ditegakkan hingga ke lapangan, bukan sekadar menjadi wacana di tingkat birokrasi.

“Kalau moratorium hanya berhenti di atas kertas, sementara di lapangan hutan terus ditebang, maka itu bukan kebijakan penyelamatan lingkungan, melainkan pembiaran,” katanya.

Jimmy mendesak agar aktivitas penebangan di Hutan Hanjuang segera dihentikan sementara, disertai evaluasi menyeluruh dengan melibatkan masyarakat dan pegiat lingkungan.

“Hutan bukan aset ekonomi semata. Ia adalah benteng terakhir keselamatan warga. Jika ini terus dibiarkan, kita sedang menyiapkan bencana dengan tangan sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Maulana Yusuf

Editor: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist