SUKABUMISATU.com – Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilaporkan GM ke Polres Sukabumi bukan hanya menarik perhatian publik, tetapi juga memicu gelombang komentar warganet. Di berbagai platform media sosial, sejumlah pengguna mulai menjuluki oknum guru terlapor sebagai “Walid versi Surade”, merujuk pada sebutan tokoh kontroversial yang ramai diperbincangkan secara nasional.
Tagar dan komentar bernuansa kritik bermunculan sejak GM tampil ke publik dan mengungkap bahwa ia bukan satu-satunya yang mengalami dugaan perilaku asusila tersebut. Julukan “Walid versi Surade” menjadi bentuk kemarahan sekaligus kekhawatiran masyarakat.
“Kalau ceritanya benar pola seperti ini terjadi lama, ya pantes disebut Walid versi Surade,” tulis salah satu warganet.
GM sendiri telah menegaskan bahwa laporan dibuat karena melihat indikasi perilaku serupa kembali muncul saat ia pulang kampung. Ia juga mengaku dihubungi sejumlah perempuan lain yang menyampaikan pengalaman serupa.
Pendamping dari KNPI dan Rumah Literasi Merah Putih mengakui bahwa fenomena julukan di media sosial itu merupakan respons spontan publik terhadap isu yang dianggap serius dan berulang. Dede Heri menyebut pola kasus ini cenderung sistematis dan tak menutup kemungkinan melibatkan perantara. Mereka telah menyerahkan bukti berupa percakapan serta foto yang diduga diminta oleh terlapor.
“Dugaan kami, ada lebih dari satu pihak yang terlibat. Polanya seperti skandal yang berjalan lama,” ujar Sekjen Rumah Literasi, Dede Heri. Senin, (17/11/25).
Polres Sukabumi kini diminta segera memberikan perkembangan penyelidikan untuk meredam spekulasi dan kehebohan di media sosial, termasuk narasi “Walid versi Surade” yang terus meluas.
Editor: Demi Pratama Adiputra












