SUKABUMISATU.com, KOTA SUKABUMI – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi. Warga setempat mengalami krisis air bersih sejak tiga bulan terakhir akibat mengeringnya sumber air di wilayah tersebut.
Merespons kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi mengerahkan kendaraan tangki untuk menyalurkan pasokan air bersih bagi warga terdampak.
Pantauan di lokasi menunjukkan deretan ember, jeriken, hingga toren kosong milik warga tampak berjejer rapi menantikan kedatangan mobil tangki. Warga terpaksa mengantre secara bergilir demi mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Sumur Bor Mengering
Penyaluran air bersih ini tercatat sudah memasuki tahap keempat sejak sebulan terakhir memasuki puncak musim kemarau. Krisis air dipicu oleh mengeringnya sumur bor yang selama ini menjadi andalan warga, ditambah posisi pemukiman yang jauh dari sumber mata air maupun sungai.
Komandan Regu (Danru) BPBD Kota Sukabumi, Kusnawan, menyampaikan bahwa wilayah RW 04 Kelurahan Cikundul merupakan salah satu titik langganan kekeringan setiap tahunnya.
”Untuk penyuplaian air bersih ini kami sifatnya menunggu permintaan dari wilayah, khususnya pihak Kelurahan. Jika ada surat permohonan, kami langsung bergerak menyuplai ke lokasi. Khusus di RW 04 Cikundul ini sudah empat kali penyaluran dalam sebulan terakhir,” ujar Kusnawan di lokasi penyerahan air, Senin (3/8/2026).
Kusnawan menambahkan, mayoritas warga di lokasi tersebut mengandalkan sumur bor. Ketika debit air tanah menyusut akibat kemarau, warga kesulitan mencari alternatif karena jarak ke sumber air alam sangat jauh.
BPBD Imbau Warga Waspadai Kebakaran Lahan
Selain mendistribusikan air bersih, pihak BPBD Kota Sukabumi bersama Damkar dan PMI juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran selama musim kemarau.
Petugas mengimbau warga agar tidak melakukan pembakaran sampah, limbah, ataupun pembersihan lahan kosong dengan cara dibakar, terutama di area yang rawan dan mudah terbakar.
”Kami mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membakar sampah atau lahan. Jika memang terpaksa ada aktivitas pembakaran, harus ditunggui dan dipastikan apinya benar-benar padam sebelum ditinggalkan,” tegas Kusnawan.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra












