SUKABUMISATU.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Sukabumi kembali memicu banjir di sepanjang aliran Sungai Cipamuruyan. Luapan air yang mencapai ketinggian lutut orang dewasa ini tak hanya membawa debit air yang tinggi, tetapi juga tumpukan material sampah yang memperparah kondisi pemukiman warga.
Sampah Bambu dari Hulu Jadi Pemicu
Pak Meman, salah satu warga terdampak, mengungkapkan bahwa banjir kali ini diperparah oleh banyaknya sampah material yang hanyut dari wilayah hulu. Menurutnya, potongan bambu dan limbah perkebunan menjadi penghambat utama aliran air di Sungai Cipamuruyan.
“Air dari atas memang besar, tapi masalahnya banyak sampah-sampah seperti bekas potongan bambu dan pelepah sawit. Kalau sudah hanyut ke hilir, itu yang menyumbat dan menghalangi jalan air sampai masuk ke rumah,” ujar Meman saat ditemui di lokasi.
Ia pun meminta kesadaran warga yang tinggal di area atas (hulu) untuk lebih peduli terhadap lingkungan. “Saya memohon kepada warga di atas, tolong jangan buang limbah bambu atau pohon ke Sungai Cipamuruyan. Kasihan kami yang ada di bawah,” tambahnya.
Kerugian Perabotan dan Kehadiran Aparat
Senada dengan Meman, Pak Udin yang juga menjadi korban banjir menyatakan bahwa kejadian ini sudah menjadi ancaman setiap kali hujan besar tiba. Meski sudah sering terjadi, kerugian materiil akibat rusaknya perabotan rumah tangga tetap tidak terhindarkan.
”Kalau hujan kecil sih tidak apa-apa, tapi kalau sudah besar seperti tadi, air pasti masuk. Perabotan sudah biasa terendam, tapi ya tetap saja capek harus bersih-bersih terus,” ungkap Pak Udin.
Beruntung, respons dari pihak setempat cukup cepat. Aparat desa bersama anggota Linmas sudah turun ke lapangan untuk memantau kondisi warga dan melakukan pendataan awal terkait dampak kerusakan akibat luapan Sungai Cipamuruyan.
Warga Kompak Minta Pembangunan Bronjong
Sebagai solusi permanen, warga di sepanjang bantaran Sungai Cipamuruyan menaruh harapan besar pada pemerintah daerah untuk segera melakukan perbaikan infrastruktur sungai.
Harapan utama warga adalah adanya peninggian tanggul atau pembangunan bronjong di titik-titik rawan, mulai dari kawasan Burengit hingga ke pemukiman warga.
”Harapan kami cuma satu, tolong ditinggikan tanggulnya. Kalau bisa dibangun bronjong atau tembok penahan setinggi 1,5 meter. Dengan begitu, air tidak akan mudah meluap meski debit sungai sedang tinggi,” pungkas Pak Udin yang diamini oleh warga lainnya.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra








