SUKABUMISATU.com — Di balik rimbunnya pepohonan dan hijaunya hamparan sawah di kaki Gunung Halimun, tersembunyi jejak-jejak sejarah masa lampau yang masih bernapas hingga hari ini. Kampung Salak Datar di Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, bukan sekadar desa biasa. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban Sunda kuno, tempat tradisi dan spiritualitas bersemayam sejak zaman Megalitikum.
Tepatnya di tengah bentangan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), hanya beberapa kilometer dari lokasi bencana longsor beberapa waktu lalu, berdiri kokoh batu-batu purba yang tertata rapi. Susunan megalitik ini—punden berundak, menhir, hingga batu datar berhias dakon—masih dijaga keberadaannya. Sejak tahun 2023, kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan dilindungi oleh Undang-undang.

“Tempat ini pertama kali dilaporkan oleh peneliti Belanda, Hasskarl, pada tahun 1842,” ungkap Eldi, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sukabumi. “Penelitian berlanjut dari masa ke masa. Dari Vordeman (1885), N.J. Krom (1914), hingga Puslit Arkenas pada tahun 1977.”
Dari temuan para ahli, Salak Datar diketahui sebagai bagian dari tradisi Megalitik masa Perundagian. Batu-batu besar di sini bukan sekadar batu, melainkan monumen spiritual—tempat para leluhur Sunda Wiwitan melakukan ritual dan pemujaan. Lokasi ini pun dekat dengan sumber air, yang dipercaya menjadi bagian penting dalam ritus penyucian jiwa.
“Menhir dan batu datar di sini menjadi media pengagungan arwah leluhur. Bahkan ada batu menyerupai permainan tradisional congklak. Setiap bentuk memiliki makna,” tambah Eldi.
Penjagaan situs ini kini berada di tangan Nurdin Maulana (49), sang juru kunci. Ia mewarisi amanat dari almarhum ayahnya, Abah Kosih, yang sebelumnya menjaga tempat ini dengan sepenuh jiwa.
“Saya hanya melanjutkan wasiat ayah. Setiap bulan Muharam, Sapar, dan Mulud, banyak peziarah datang. Tidak hanya untuk doa, tapi juga untuk merasakan spiritualitas tempat ini,” tutur Nurdin.
Menurutnya, situs ini dahulu juga menjadi tempat ‘paniisan’ oleh seorang wali dari Sumedang bernama Mama Haji Geusan Ulun, sebagai tempat untuk bertapa dan menyatu dengan alam serta Sang Pencipta.
Jalan Menuju Keheningan
Mengakses lokasi ini bukan perkara mudah. Minimnya petunjuk arah membuat setiap langkah terasa seperti petualangan. Jalur yang disarankan adalah melalui Gang Ajid Cimaja, dengan jarak sekitar 7 kilometer dari pusat desa. Jika beruntung, pengunjung bisa melihat lutung—primata endemik yang masih berkeliaran bebas di kawasan ini.
Sensasi yang ditawarkan tak hanya spiritual, tapi juga menyatu dengan alam. Bagi penikmat wisata sejarah dan budaya, Salak Datar adalah harta karun tersembunyi yang wajib ditelusuri.
Dari Megalitikum ke Ombak Dunia
Tak jauh dari situs megalitikum ini, hanya beberapa kilometer ke arah selatan, terbentang Pantai Cimaja—permata lain Sukabumi yang kini mendunia. Pesisir dengan ombak menantang ini menjadi magnet bagi para peselancar dari berbagai belahan dunia.
Hamparan pasir hitam, air laut jernih, debur ombak, dan panorama matahari terbenam menjadi daya pikat tak terbantahkan. Tak heran bila Cimaja disebut sebagai “surga selancar” di Pulau Jawa.
“Pantai ini mulai dikenal dunia sekitar tahun 1980-an,” kenang Rudi, warga setempat. “Waktu itu dua turis asing, Endy dari Australia dan Rasty dari Selandia Baru, datang ke sini. Mereka tinggal di rumah Bu Cicin dan mulai mengenalkan selancar ke anak-anak kampung.”
Keduanya yang dijuluki warga sebagai ‘Bule Beureum’ bukan hanya membawa papan selancar, tapi juga membuka mata dunia akan potensi wisata Cimaja. Jejak mereka tertinggal dalam cerita warga, hingga kini masih ada penginapan seperti Daun-daun—yang dahulu adalah warung makan legendaris “Sari Raos”—yang menjadi basecamp favorit para bule pencari ombak.
Dua Dunia dalam Satu Tarikan Napas
Salak Datar dan Pantai Cimaja adalah dua sisi mata uang dari wilayah yang sama. Yang satu menyimpan hening spiritual dan sejarah ribuan tahun, yang lain menggelegak dalam deru ombak dan energi petualangan.
Di sinilah Sukabumi menawarkan sebuah perjalanan lintas waktu. Dari bebatuan purba yang membisikkan mantra leluhur, hingga ombak samudra yang menari membawa semangat global. Di antara keduanya, ada kisah manusia, alam, dan budaya yang saling mengikat dalam harmoni.
—
Penulis: Demi Pratama Adiputra







