SUKABUMISATU.com – Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Cisolok pada Kamis (4/12/2025) membuka kembali persoalan klasik: lemahnya kualitas infrastruktur yang seharusnya melindungi dan menunjang aktivitas warga. Mulai dari pagar sekolah jebol, sungai meluap, hingga jembatan darurat hanyut—semuanya menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam dari sekadar cuaca ekstrem.
Tembok pagar SMA Negeri 1 Cisolok jebol pada Kamis sore. Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq, menyebut hujan intensitas tinggi menjadi penyebab utama.
Namun hasil pantauan di lapangan memperlihatkan beberapa hal yang patut dipertanyakan:
Pagar tidak dilengkapi drainase memadai sehingga air menumpuk dan menekan struktur. Material tampak rapuh dan retakan sudah terlihat sejak awal November, menurut warga sekitar.
“Retaknya sudah lama. Begitu hujan besar, langsung jebol,” ujar salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya.
Sungai Cisolok Meluap, Normalisasi Dinilai Setengah Hati
Debit Sungai Cisolok meningkat tajam hingga meluap ke sisi permukiman. Meski bronjong di Blok Cikahuripan diklaim mampu menahan luapan, warga meragukan kualitasnya.
Seorang relawan kebencanaan melihat pemasangan bronjong seperti pekerjaan darurat, bukan solusi jangka panjang.
“Kawatnya jarang, batuannya kecil. Ini tidak kuat jika debit air naik,” katanya.
Normalisasi sungai yang dilakukan sejak pagi juga tidak signifikan menahan arus. Limpasan tetap terjadi.
Jembatan Darurat Kembali Hanyut, Warga Pertanyakan Solusi Permanen
Jembatan darurat yang menjadi akses harian warga kembali hanyut tersapu arus deras. Mirisnya, ini sudah terjadi tiga kali dalam enam bulan. Belum ada rencana pembangunan jembatan permanen. Warga harus mempertaruhkan keselamatan setiap musim hujan.
“Tiap hujan besar pasti hanyut. Anak sekolah lewat sini tiap hari,” keluh Dedi, warga setempat.
Respons Cepat Ada, Tapi Pencegahan Lemah
Aparat kecamatan memang sigap memantau lokasi, tetapi pola kerusakan yang terus berulang menunjukkan akar masalah ada pada kualitas infrastruktur yang tidak siap menghadapi cuaca ekstrem.
Pengamat Lingkungan Asep Yadi menilai kejadian ini sebagai alarm keras bagi pemerintah.
“Jika hanya merespons tanpa memperbaiki akar masalah, kerusakan seperti ini akan terus berulang. Audit infrastruktur harus segera dilakukan,” tegas Yadi.
Menurutnya bencana alam di Cisolok memperlihatkan bahwa Infrastruktur publik tidak dirancang menghadapi intensitas hujan tinggi.
Proyek penahan sungai dan bangunan publik perlu diaudit ulang. Kecamatan membutuhkan mitigasi jangka panjang, bukan sekadar penanganan darurat.
Hingga pukul 16.21 WIB, hujan masih turun ringan dan petugas tetap siaga. Namun tanpa pembenahan menyeluruh, ancaman kerusakan serupa tinggal menunggu waktu.
Editor: Demi Pratama Adiputra








