Oleh: Evi Sri Handayati, S.E., M.Si.
Tujuan akhir semua ibadah, yaitu untuk meraih ketakwaan, sebagaimana bunyi Alquran yang artinya: “Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu sekalian, supaya kamu sekalian bertakwa (Q.S.2:21). Dengan demikian, terdapat hubungan antara semua jenis ibadah dengan ketakwaan, tidak terkecuali ibadah puasa. Hanya saja untuk ibadah puasa memiliki keistimewaan, yaitu hubungannya dengan ketakwaan bersifat langsung. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam Alquran yang artinya: “Telah diwajibkan kepada-mu berpuas, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, supaya kamu sekalian bertakwa” (Q.S. 2:183). Seperti apa hubungan langsung ibadah puasa dengan ketawaan, ini akan diuraikan dalam tulisan ini yang sekaligus menjadi tujuan penulisan ini. Untuk menjelaskan hal tersebut, terdapat tiga konsep dasar yang saling terkait secara erat, yaitu, puasa/saum, sabar, dan takwa atau ketakwaan.
Puasa atau shaum dalam Bahasa Arab, memiliki hubungan yang erat dengan sabar atau kesabaran, karena puasa merupakan sebagian dari sabar, sedangkan sabar merupakan sebagian dari keimanan, selain syukur. Hal ini sebagaimana sabda Nabi: “Al-Iman Nisfani, Nisfun Shabrun, wa Nisfu Syukrun (Iman itu terbagi dua bagian, sebagian sabar, dan sebagian syukur); Al-Shaum Nisfushabri, wa As-Shabru Nisful Iman (Saum itu setengah dari kesabaran, dan kesabaran setengah dari keimanan). Dengan demikian, puasa merupakan seperampat dari keimanan (Ismail Haqqi, Juz 10: 428). Sedangkan gabungan antara sabar dan Syukur akan melahirkan iman yang sempurna atau yakin. Manakala hilang salah satunya maka keyakinan dalam beragama tidak pernah diperolah, karena keyakinan dibangun dari keduanya. Tatkala kedua komponen keimanan ini menyatu maka akan melahirkan sikap ketaqwaan. Dalam hal ini takwa bisa berarti takut, yaitu takut oleh Allah dengan menjalankan perintah dan larangannya; takwa bisa berati taat/ketaatan; dan takwa dalam pengertian memiliki kebersihan hati. Itulah tiga makna takwa dalam Alquran. Dalam hubungannya dengan ibadah puasa, ini berarti sabar dalam ketatan menjaga berbagai pembatalan puasa, baik dalam pengertian puasa Zahir/syariat, maupun puasa batin, yaitu menjaga seluruh anggota tubuhnya dari pembatalan pahala ibadah puasa. Hal ini sekaligus merupakan sikap syukur karena menjalankan dirinya sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya, yaitu untuk beribadah kepada Allah sebagai sang pencipta, pengatur, dan pemelihara alam semesta. Dengan demikian, antara ketiga konsep puasa, sabar, dan taqwa atau ketakwaan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, yaitu puasa sebagai sebab, sabar sebagai proses, dan takwa sebagai akibat yang merupakan tujuan ibadah puasa.
Puasa atau shaum berasal dari kata shama-yashumu-shauman, yaitu al Imsak atau menahan, sehingga dalam pengertian istilah menjadi menahan diri dari hal-hal yang mebatalkan ibadah puasa, yaitu makan, minum, dan jima. Dalam Alquran kata shaum digunakan untuk puasa dalam pengertian di atas, sedangkan kata shiam digunakan untuk puasa menahan dari bicara, sebagaimana yang dilakukan Siti Maryam ketika bernazar untuk tidak berbicara selama tiga hari sebagaimana yang diungkapkan dalam Alquran (Q.S Maryam:26) “… Inni nazartu Lirrahami shauman falam ukkalimal yauma insiyya” (Aku tidak akan berbicara dengan siapapun pada hai ini). Sedangkan kata shaum digunakan dalam Alquran Surat Albaqarah ayat 183 sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Sedangkan sabar berasal dari kata As-Shabru yang berari menahan diri dari sesuatu yang tidak mengenakan diri atau tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu, baik dalam bentuk melakukan ketaatan, menahan dari maksiat, maupun dari menerima musiabah. Dengan demikian terdapat tiga jenis kesabaran, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menunda maksiat, dan sabar dalam menerima ujian. Adapun takwa memiliki tiga pengertian, yaitu takut, ketaatan, dan kebersihan hati sebagaimana yang telah diuraikan di atas.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa tujuan semua ibadah adalah ketakwaan atau membangun ketakwaan, demikian pula secara spesifik ibadah puasa, sehingga akan menjadikan si pelakunya takut kepada Allah, menjalankan ketaatan, dan menjadikan bersih hatinya. Khusus dengan ibadah puasa terdapat hubungan langsung antara berpuasa dengan ketakwaan. Hal ini karena seseorang berpuasa berhadapan langsung dengan upaya untuk menahan dirinya atau hawa nafsunya dari hal-hal yang dapat membatalkan ibadah puasa, seperti makan, minum, dan jima, dan yang membatalkan pahala ibadah puasa, sehingga ia juga harus menjaga dari seluruh anggota tubuhnya agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti mengumpat, menyakiti orang lain dan lain sebagainnya. Jika hal tersebut dilanggar maka batallah ibadah puasa dan pahala puasanya, karena tidak bisa menahan dri atau sabar dari menjaga pembatalan ibadah puasa dan pahala ibadah puasa. Dengan demikian terdapat hubungan yang langsung antara puasa dengan kesabaran. Kesimpulannya, bahwa dengan melakukan ibadah puasa secara benar, yaitu puasa lahir dan batih, hal ini dapat menerabas ketakwaan secara langsung dalam satu bulan penuh, baik secara pribadi maupun kolektif yang akan berdampak dalam kehidupan pasca Ramadan. Itulah hubungan langsung puasa dengan ketakwaan, yang melewati pintu kesabaran.







