Selasa,19 Mei 2026
Pukul: 12:32 WIB

MISTERI, KHASIAT, HINGGA CUAN HANJUANG: Dari Benteng Gaib ‘Budak Angon’, Obat Pendarahan, Hingga Jadi Primadona di Eropa

MISTERI, KHASIAT, HINGGA CUAN HANJUANG: Dari Benteng Gaib ‘Budak Angon’, Obat Pendarahan, Hingga Jadi Primadona di Eropa

Selasa, 19 Mei 2026
/ Pukul: 12:02 WIB
Selasa, 19 Mei 2026
Pukul 12:02 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com — Warga Sukabumi tentu sudah sangat akrab dengan tanaman hanjuang (Cordyline fruticosa). Tanaman berdaun merah keunguan ini sering kita jumpai hanya sebagai pagar kebun, pembatas pekarangan, atau penghias area pemakaman.

​Banyak yang mengira tanaman ini tidak bisa berbunga. Padahal, pada musim tertentu, hanjuang bisa mengeluarkan bunga cantik menjuntai yang memancarkan aroma wangi semerbak—berawal seperti bau bedak yang lama-kelamaan mewangi seperti melati saat tertiup angin. Namun, pesona hanjuang ternyata jauh melampaui keindahan dan wanginya saja. Tanaman ini menyimpan nilai historis, magis, medis, hingga potensi ekonomi bernilai dolar!

Simbol Perjuangan dan Penolak Bala di Nusantara

Bagi masyarakat Sunda, hanjuang adalah tanaman filosofis. Sejak era Kerajaan Pajajaran, tanaman ini diyakini memiliki tuah. Keterkaitan hanjuang dengan identitas Sunda terekam jelas dalam naskah kuno Uga Wangsit Siliwangi. Dikisahkan, sosok pemimpin sejati masa depan yang merakyat, yakni ‘Budak Angon’, memiliki rumah perlindungan “di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang.” Hanjuang menjadi metafora pertahanan batin, keberanian, dan ketangguhan nilai leluhur. Tak hanya di Tanah Sunda, kesakralan hanjuang juga diakui di berbagai pelosok Nusantara. Di Mentawai, tanaman ini disebut Bobblo yang diyakini bisa menetralisir energi negatif. Sementara itu di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, daun hanjuang dikenal dengan nama daun Tabang. Daun ini wajib ada dalam perhelatan ritual Rambutuka’ (ritual sukacita) karena dipercaya ampuh sebagai penolak bala dan pelindung dari hal-hal buruk.

Apotek Hidup Spesialis Darah

Di balik unsur magisnya, hanjuang merah terbukti secara tradisional sebagai “apotek hidup”. Tanaman ini diam-diam jago mengurus kesehatan darah dalam tubuh karena memiliki sifat hemostatik alami (penghenti pendarahan).

​Secara turun-temurun, hanjuang dipercaya mampu meredakan batuk berdarah, kencing berdarah, hingga wasir yang meradang. Bagi kaum hawa, rebusan daun hanjuang merah kerap diandalkan untuk meredakan nyeri haid dan mengontrol darah berlebih saat menstruasi. Caranya sangat simpel: cukup rebus 3-5 lembar daun segar dengan 3 gelas air hingga tersisa separuh, lalu diminum selagi hangat.

​Selain pengobatan dalam, daun hanjuang merah yang dilumatkan juga ampuh dijadikan kompres alami untuk meredakan bengkak, memar, nyeri, dan peradangan pada luka luar.

Harta Karun yang Dihargai Mahal di Eropa

Ironisnya, tanaman yang sering dianggap “receh” dan sekadar pagar kebun di kampung-kampung kita ini, ternyata menjadi harta karun di luar negeri. Belakangan viral di media sosial bagaimana potongan batang “hanjuang besi” diekspor dan diburu oleh bule-bule di negara-negara Eropa seperti Belgia, Belanda, dan Prancis.

​Mereka rela merogoh kocek puluhan hingga ratusan dolar Amerika hanya untuk mendapatkan tanaman ini guna memberikan kesan elegan dan mewah di rumah mereka.

​Melihat fakta ini, sudah saatnya kita berhenti meremehkan potensi tanaman lokal. Hanjuang adalah bukti nyata bahwa warisan leluhur—baik dari sisi budaya, kesehatan, maupun keindahan—memiliki nilai tinggi di mata dunia. Mari lestarikan hanjuang, karena kehilangan alam dan budaya berarti kita kehilangan cara untuk menyembuhkan diri.

Penulis: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist

Contact Person:
+62856-9788-7574 (HP/WA)