SUKABUMISATU.com – Potret kondisi hunian yang tidak layak masih menjadi persoalan nyata bagi sebagian warga di pelosok Kabupaten Sukabumi. Salah satunya dirasakan oleh Lisnawati (37), seorang janda dengan tiga anak yang tinggal di Kampung Cilalay Babakan RT 11 RW 12, Desa Citanglar, Kecamatan Surade.
Sejak ditinggal wafat suaminya dua tahun lalu, Lisnawati harus berjuang sendirian menjaga ketiga buah hatinya. Tanpa pekerjaan tetap, kesehariannya difokuskan untuk mengurus anak-anaknya yang masih menempuh pendidikan, yakni kelas 3 SMP, kelas 3 SD, dan si bungsu yang baru berusia 4 tahun. Dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 4 jiwa, mereka harus tinggal di rumah sempit seluas 14 meter persegi dengan kondisi bangunan yang rusak berat pada bagian atap dan dinding.
Kepala Desa Citanglar, Surahman, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam melihat kondisi warganya tersebut. Pemerintah Desa Citanglar telah secara resmi menyusun dan menyampaikan proposal usulan bantuan sosial perbaikan rumah tidak layak huni atas nama Lisnawati kepada Dinas Perkim Kabupaten Sukabumi.
”Kami dari Pemerintah Desa Citanglar sudah mengusulkan perbaikan melalui program Rutilahu ke Dinas Perkim Kabupaten Sukabumi. Besar harapan kami proposal yang kami ajukan dapat segera terkabul,” ujar Surahman pada sukabumisatu.com . Selasa, (12/05/26).
Dalam dokumen proposal tersebut, estimasi biaya yang dibutuhkan untuk merehabilitasi rumah Lisnawati agar menjadi layak huni adalah sebesar Rp 30.000.000 (Tiga Puluh Juta Rupiah). Dana tersebut diharapkan bersumber dari APBD Kabupaten Sukabumi, swadaya masyarakat, serta partisipasi dunia usaha.
Kondisi rumah Lisnawati saat ini tercatat tidak memiliki fasilitas jamban keluarga, yang menambah urgensi perlunya perbaikan segera demi kesehatan dan kenyamanan keluarga kecil tersebut.
”Harapannya ingin segera diperbaiki, ingin punya rumah yang layak huni bagi anak-anak,” ungkap Lisnawati lirih saat ditemui di kediamannya.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah kabupaten. Warga dan pihak desa berharap proses birokrasi dapat berjalan cepat sehingga Lisnawati dan ketiga anaknya tidak lagi merasa was-was saat hujan melanda akibat atap yang rusak berat.
Reporter: Maulana Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra










