SUKABUMISATU.com – Ketegangan diplomatik di Timur Tengah kini mulai berdampak nyata pada ketahanan energi nasional. Dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan tertahan di Selat Hormuz, Iran pada pekan lalu. Sabtu, (28/03/2026).
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan BBM di dalam negeri, termasuk distribusinya ke wilayah Jawa Barat. Namun, di balik alasan teknis pelayaran, muncul dugaan kuat adanya motif “balas dendam” diplomatik dari pihak Teheran terhadap Indonesia.
Sentilan Tajam dari Namarin
Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, memberikan analisis menohok terkait situasi ini. Ia menilai tertahannya kapal Pertamina bukanlah kebetulan semata, melainkan buntut dari sengketa kapal tanker Iran, MT Arman 114, yang disita otoritas Indonesia di Natuna pada 2023 lalu.
”Iran sebetulnya menginginkan Indonesia melepas kapal itu, jangan dilelang. Tapi sampai hari ini kapal itu masih di sini (Indonesia). Pihak Iran melalui Atasenya sempat menyampaikan bahwa mereka akan membalas perlakuan ini,” tegas Siswanto dalam talkshow yang digelar Sindonews, Kamis, (26/03/2026) lalu.
Sebagaimana diketahui, MT Arman 114 beserta muatan 1,25 juta barel minyak mentahnya kini tengah dalam proses lelang oleh Kejaksaan Agung RI dengan nilai limit mencapai Rp1,17 triliun. Langkah hukum tegas Indonesia ini diduga kuat menjadi pemantik “lampu merah” bagi kapal-kapal berbendera Indonesia yang melintasi jalur logistik minyak paling vital di dunia tersebut.
Posisi Tawar Indonesia Terjepit
Siswanto menyebut posisi tawar Indonesia saat ini berada di titik lemah. Iran secara selektif hanya memberikan izin melintas bagi negara-negara yang dianggap “sahabat” dekat. Sementara Indonesia, terjepit di antara tekanan global Amerika Serikat dan kebutuhan menjaga hubungan baik dengan Iran.
”Ada tekanan dari AS yang membuat Indonesia membatalkan keterlibatan kapal perang Iran dalam latihan maritim MNEK 2025. Hal-hal seperti ini yang memperkeruh suasana diplomatik di saat kita butuh akses jalur minyak,” tambahnya.
Ancaman Stok BBM di Daerah
Meski pemerintah melalui Kementerian ESDM menyatakan stok solar dan BBM nasional masih dalam batas aman, tertahannya dua tanker raksasa ini menjadi sinyal kuning bagi masyarakat, termasuk di wilayah Sukabumi dan sekitarnya yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi untuk sektor logistik dan pertanian.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Indonesia masih terus melakukan negosiasi intensif dengan otoritas Teheran untuk memastikan Pertamina Pride dan Gamsunoro bisa segera keluar dari zona merah Selat Hormuz tanpa syarat yang memberatkan kedaulatan hukum Indonesia.
Editor: Demi Pratama Adiputra










