SUKABUMISATU.com – Memanasnya suhu politik di Timur Tengah ternyata tidak hanya menjadi obrolan di meja diplomasi dunia. Dampaknya kini dirasakan langsung oleh warga Kabupaten Sukabumi yang tengah menantikan jalan mulus. Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran memicu guncangan ekonomi yang berimbas pada tertundanya sejumlah proyek infrastruktur di Bumi Penyu. Kamis, (16/04/2026).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi, Uus Pirdaus, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik global tersebut telah memicu lonjakan harga material bangunan, terutama komoditas impor seperti aspal.
”Kami terus memantau perkembangan harga. Laporan dari Bina Teknik menyebutkan adanya hambatan akibat kenaikan harga material impor, terutama aspal, sebagai dampak perang di Timur Tengah,” ujar Uus saat meninjau kondisi jalan di Jalan Ahmad Yani, Palabuhanratu, Rabu (15/4/2026).
HPS Jadi ‘Basi’ dalam Hitungan Hari
Lonjakan harga ini terbilang drastis. Uus memaparkan, dalam waktu dua minggu terakhir, harga aspal telah naik sebesar 15 persen sebanyak dua kali. Hal ini membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang telah disusun dinas menjadi tidak relevan atau “basi”.
”Total kenaikannya sudah sangat tinggi. Tidak hanya aspal, harga semen beton juga ikut merangkak naik. Ini jelas mengganggu perencanaan yang sudah kita buat,” tambahnya.
Demi menghindari kerugian di sisi kontraktor, Dinas PU memilih langkah realistis dengan menahan proses lelang proyek. Uus menegaskan tidak ingin memaksakan penyedia jasa bekerja dengan harga lama yang sudah tidak masuk akal.
”Kalau dipaksakan sekarang, kasihan penyedia. Bukannya untung, malah buntung. Kami akan hitung ulang HPS-nya sesuai kondisi harga di lapangan,” tegas Uus.

Di Sisi Lain: Ruas KH Zejen ZA Tetap Digeber
Meski banyak proyek baru yang terpaksa ditunda akibat badai harga global, beberapa pengerjaan jalan yang sudah berjalan terpantau tetap dipacu. Salah satunya adalah proyek peningkatan Ruas Jalan KH Zejen ZA di Kecamatan Sukabumi.
Proyek senilai Rp372 juta yang dikerjakan oleh CV Mandiri Putera ini telah dimulai sejak 13 Maret 2026 dan ditargetkan rampung dalam waktu 45 hari kalender. Di tengah ketidakpastian harga material, pengerjaan di lapangan tetap intensif dengan melibatkan pengawasan ketat.
”Kami menargetkan pekerjaan selesai tepat waktu, namun kualitas tetap nomor satu. Kami pastikan setiap tahapan sesuai spesifikasi agar manfaatnya bisa dirasakan jangka panjang oleh masyarakat,” kata Uus.
Infrastruktur sebagai Urat Nadi Ekonomi
Uus menekankan bahwa meskipun ada tantangan global yang berat, pemerintah daerah tetap berkomitmen pada pembangunan konektivitas antarwilayah. Baginya, infrastruktur jalan adalah urat nadi perekonomian lokal.
”Ketika akses membaik, mobilitas masyarakat meningkat dan dampaknya langsung pada pertumbuhan ekonomi. Kami akan terus mencari solusi agar mimpi warga menikmati jalan mulus tidak tertunda terlalu lama,” pungkasnya.
Editor: Demi Pratama Adiputra










