SUKABUMISATU.com — Tak ada yang menyangka, langkah sederhana seorang kakek di pagi hari berubah menjadi langkah terakhir dalam hidupnya. Ade Rahmat (62), pria sepuh asal Kampung Ciawi RT 17 RW 06, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, ditemukan tak bernyawa setelah tertabrak kereta api di perlintasan tanpa palang pintu, Jumat pagi (2/8/2025).
Tubuhnya tergeletak di sisi rel Paledang, Jalan Cicantayan diam tak bergerak, disaksikan warga yang perlahan mulai berkumpul, sebagian tak mampu menahan air mata. Rel yang biasa menjadi jalur terapi bagi Ade, berubah menjadi saksi bisu kepergiannya yang mendadak.
“Saya kalau kejadian detilnya kurang begitu tahu, tapi memang tiap hari beliau suka jalan kaki untuk terapi. Sering juga lewat rel itu. Kadang mampir ke rumah saya dulu lihat cucunya,” ujar Dedi (47), menantu korban dengan suara tertahan.
Ade telah lama berjuang melawan penyakit diabetes. Salah satu bentuk terapinya adalah berjalan kaki setiap pagi, menyusuri jalur-jalur yang sudah biasa dilaluinya. Rumahnya hanya berjarak sekitar 500 meter dari rel, jalur yang nyaris setiap hari ia tapaki.
Namun pagi itu, sekitar pukul 09.45 WIB, nasib berkata lain. Kereta api jurusan Bogor–Sukabumi melintas dengan kecepatan tinggi, dan dalam sekejap, segalanya berubah. Ade tak sempat menyelamatkan diri.
Petugas PMI yang tiba di lokasi langsung menghentikan langkah. “Waktu saya datang, jenazahnya masih tergeletak. Belum bisa kami evakuasi karena kantong jenazah belum sampai,” ungkap Ima, petugas PMI. Sabtu, (2/8/2025).
Warga sempat kebingungan karena korban tidak langsung dikenali. Hanya pakaian dan sosoknya yang membuat salah satu warga menebak—dan tak lama, seorang keluarga datang, menatap jasad di balik garis polisi, lalu mengangguk perlahan, menahan pilu. “Itu mertua saya,” ucapnya.
Duka mendalam menyelimuti keluarga. Ade dikenal sebagai sosok yang hangat, suka berjalan-jalan dan menyapa siapa saja yang ia temui di jalan. Ia meninggalkan dua anak, dan cucu yang biasa ia temui sebelum Dedi berangkat kerja.
Kini, langkah-langkah ringan Ade di pagi hari tinggal kenangan. Jalan yang biasa ia lalui tak lagi sama. Sebuah kehilangan yang menyentuh hati siapa pun yang mengenalnya.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra











