SUKABUMISATU.COM – Sekitar tahun 2000, warga Kampung Cigintung, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, geger dengan ditemukannya benda yang belakangan diketahui sebagai fosil gigi Megalodon atau hiu purba yang hidup jutaan tahun silam.
Temuan yang awalnya dikira batu unik biasa itu dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan huntu gelap (gigi petir, red). Sampai kemudian ada warga yang mengetahui bahwa benda keras itu adalah fosil dan bernilai jual tinggi. Sontak eksplorasi besar besaran banyak dilakukan warga. Sawah dan ladang akhirnya menjadi sasaran penggalian.
Saking hebohnya berita tentang fosil bernilai jual tinggi, banyak warga Gunungsungging yang membuat akun rekening virtual Paypal. Ini karena peminat atau pembeli fosil berasal dari luar negeri, seperti Brazil, Cina, bahkan Amerika. Satu fosil dengan ukuran 19 cm saja bisa terjual Rp 150 juta.
Semenjak heboh harga fosil cukup mahal, penggalian tanah untuk mencari fosil terus dilakukan warga setempat. Bahkan ada warga yang sengaja melakukan penggalian bukan di tanah miliknya.
Jika penggalian berhasil menemukan fosil, siempunya tanah baru dikasih tahu dan diberi uang bagian. Tetapi sebaliknya jika tidak berhasil, bekas galian tanah dibiarkan begitu saja.
“Di tanah saya sendiri pernah ada lubang bekas galian,” kata H. Agus ( 53 ), warga Salenggang, Desa Gunungsungging.
Setelah ada penelitian oleh para ahli geologi, kegiatan mencari fosil mulai menurun. Apalagi setelah Pemda Kabupaten Sukabumi menyatakan bahwa di tempat tersebut banyak terdapat fosil hiu purba yang perlu dilestarikan. Semenjak itu, kegiatan mencari gigi hiu Megalodon pun hilang dengan sendirinya.
Dibalik gaungnya fosil Megalodon yang mendunia, ada segelintir kisah pilu yang dialami warga Gunungsungging terkait dengan perburuan gigi hiu Megalodon ini.
Adalah Udin ( 50 ), penduduk Kampung Salenggang, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, yang mengalami nasib tragis saat melakukan penggalian tanah untuk mencari gigi hiu.

Sekitar tahun 2020, saat boomingnya gigi hiu Megalodon, Udin bersama ketujuh temannya melakukan penggalian tanah untuk mencari gigi hiu. Kegiatan itu ia lakukan di lahan milik tetangganya di Kampung Cilutung, Desa Gunungsungging.
Dengan menggunakan alat seadanya, Udin dan temannya melakukan penggalian dimulai sejak sore hari. Tak ada tanda tanda akan terjadi sesuatu, sekitar pukul satu dini hari saat itu hujan turun, namun penggalian terus berjalan.
Tiba tiba bongkahan batu yang tergerus aliran air hujan ambruk dan menimpa badan Udin. Saat itu ketujuh temannya berhasil mengevakuasi Udin dan membawanya ke rumah sakit.
“Kalau saya lihat, batu yang menimpa itu besarnya sama seperti mobil angkot. Besar sekali,” kata Udin.
Akibat musibah yang menimpa dirinya, kini lelaki paruh baya ini mengaku sudah tidak bisa melakukan aktivitas lagi. “Silahkan liat, lengan saya sampai seperti ini (cedera/cacat,red),” kata Udin seraya memperlihatkan tanganya.
Sampai saat ini untuk kesembuhannya Udin rutin meminum obat. Untuk menyambung hidup keluarganya kini digantikan oleh istrinya yang berjualan jajanan anak anak.
Menurut cerita Udin, di kampungnya itu sudah ada tiga warga yang mengalami nasib serupa. Bahkan, katanya lagi, ada tetangganya yang tertimpa bongkahan batu kemudian jatuh sakit dan beberapa bulan kemudian meninggal.
Penulis: Jajang Suhendar | Redaktur: Mulvi Mohammad Noor









