SUKABUMISATU.com – Di tengah narasi pembangunan dan geliat pariwisata, Kabupaten Sukabumi masih menyimpan wajah buram kemiskinan. Pasangan suami istri Misjo dan Teti, warga Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak, bersama anak mereka, hidup dalam rumah bilik bambu reyot tanpa penerangan listrik selama lebih dari tiga tahun.
Setiap malam, keluarga ini hanya ditemani cahaya pelita minyak tanah dan lilin. Rumah kecil mereka berdiri di tengah kebun, jauh dari pemukiman warga, dengan akses jalan setapak licin dan gelap. Kondisi ini membuat kehidupan mereka terisolasi, seolah terpinggirkan dari denyut pembangunan.
“Kalau malam gelap sekali, sudah biasa tanpa lampu. Harapannya cuma ingin ada penerangan, biar anak juga tidak hidup dalam kegelapan,” tutur Teti lirih.
Data Kontras: Angka Turun, Realita Buram
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Sukabumi, angka kemiskinan tahun 2024 tercatat 6,87%, setara dengan lebih dari 180 ribu jiwa. Secara statistik angka ini menurun, tetapi kasus seperti Misjo dan Teti membuktikan bahwa penurunan di atas kertas tidak otomatis berarti hilangnya jurang ketimpangan di lapangan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sukabumi masih berada di angka 0,689, kategori sedang. Artinya, kualitas pendidikan, kesehatan, dan akses fasilitas dasar warga belum setara dengan daerah lain di Jawa Barat.
Ketimpangan Sosial yang Menjadi Luka Lama
Forum Warga Sukabumi (FWS) menilai pemerintah daerah belum benar-benar menyentuh lapisan terbawah masyarakat. “Ini soal hak dasar warga negara. Bagaimana mungkin masih ada keluarga di Sukabumi hidup tanpa listrik? Minimal pasang solar cell atau jaringan listrik murah. Jangan biarkan mereka bertahan dalam gelap,” tegas Herman Ahong, Ketua FWS.
Pemerintah Kecamatan Cibadak sendiri mengklaim sudah melakukan asesmen dan mengajukan bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu). Namun, masyarakat menilai langkah ini terlambat. Selama tiga tahun lebih, keluarga ini sudah menanggung hidup tanpa penerangan, sementara laporan administrasi baru bergulir belakangan.
Potret Buram Sukabumi
Kisah Misjo dan Teti adalah potret kecil dari problem besar: ketimpangan sosial di Kabupaten Sukabumi. Di satu sisi, kota dan kawasan wisata berkembang, jalan tol dibangun, dan investasi digencarkan. Di sisi lain, masih ada warga yang tidur dalam kegelapan, menunggu uluran tangan.
Pembangunan tanpa pemerataan hanyalah menambah jurang ketidakadilan. Kabupaten Sukabumi masih punya pekerjaan rumah besar: memastikan bahwa tidak ada lagi warganya yang hidup dalam rumah reyot, tanpa listrik, di tengah janji modernisasi. (Redaksi)











