Sabtu,14 Februari 2026
Pukul: 06:18 WIB

Jejak Sejarah dan Kekuatan Ekonomi: Mengapa Sukabumi Menjadi Raksasa Gula Merah di Jawa Barat?

Jejak Sejarah dan Kekuatan Ekonomi: Mengapa Sukabumi Menjadi Raksasa Gula Merah di Jawa Barat?

Minggu, 4 Januari 2026
/ Pukul: 14:53 WIB
Minggu, 4 Januari 2026
Pukul 14:53 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Sukabumi bukan sekadar wilayah dengan udara sejuk yang memanjakan wisatawan. Di balik bentang alamnya yang mencapai 4.164,15 kilometer persegi—menjadikannya kabupaten terluas di Pulau Jawa—terdapat potensi ekonomi kerakyatan yang luar biasa: Industri Gula Merah.

​Sejarah panjang sebagai wilayah perkebunan sejak era kolonial kini bertransformasi menjadi kemandirian ekonomi bagi ribuan rumah tangga.

1. Akar Sejarah: Dari Kopi hingga “Suka Bumen”

​Secara historis, Sukabumi telah menjadi pusat perhatian dunia sejak tahun 1707 ketika VOC menjadikan wilayah ini sebagai daerah percontohan budidaya kopi. Nama “Soekaboemi” sendiri diperkenalkan secara formal oleh Dr. Andries de Wilde pada Januari 1813.

​Nama tersebut berasal dari bahasa Sunda “Suka Bumen”, yang bermakna kawasan yang membuat orang senang menetap karena kesejukannya. Kini, kenyamanan tersebut bukan hanya soal udara, tetapi juga keberlangsungan hidup masyarakatnya melalui sektor agrikultur yang tangguh.

Baca Juga  Penyadap di Surade Menjerit! Pohon Kelapa di Tanah Garapan Ditebang Paksa, Diganti Sawit?

2. Penopang Utama Ekonomi Keluarga

​Bagi masyarakat di sentra produksi seperti Cisolok atau Ciracap, gula merah bukan sekadar komoditas sampingan. Data menunjukkan bahwa industri ini menyumbang 50% hingga 70% total pendapatan keluarga. Hal ini menjadikan gula merah sebagai penyangga utama ekonomi lokal yang mampu menjaga daya beli masyarakat di wilayah pesisir dan perbukitan.

3. Data Produksi yang Fantastis

​Berdasarkan data Kabupaten Sukabumi Dalam Angka, potensi bahan baku gula merah di wilayah ini merupakan salah satu yang paling dominan di Jawa Barat:

Baca Juga  Perjuangan Rakyat Jampang Melawan Belanda: Jejak Harta Karun dan Sejarah yang Terkubur

​Kelapa (Kelapa Dalam): Menjadi primadona di wilayah selatan seperti Ciracap dan Surade. Produksi kelapa dalam mencapai kisaran 1.154,5 ribu ton (periode 2020-2023). Angka ini menempatkan Sukabumi sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di Jawa Barat.

​Aren: Produksi nira aren tetap konsisten dengan luas lahan mencapai ribuan hektar yang tersebar di wilayah perbukitan. Aren menjadi motor ekonomi di wilayah yang lebih tinggi, menghasilkan kualitas gula yang diminati pasar premium.

4. Transformasi Menuju Pasar Global

​Sukabumi kini tidak hanya mengirim gula dalam bentuk cetakan tradisional. Diversifikasi produk seperti gula semut (gula kristal) telah membuka pintu pasar ekspor.

​Dukungan data BPS yang menunjukkan kontribusi sektor pertanian dan pengolahan terhadap PDRB yang stabil membuktikan bahwa komoditas ini tahan banting. Gula merah Sukabumi kini menjadi pemasok utama industri makanan nasional sekaligus duta produk organik Indonesia di luar negeri.

Baca Juga  Sejarah Rumah Sakit Sekarwangi Dari Rumah Sakit Misionaris Hingga Menjadi Rumah Sakit Umum Daerah

5. Melestarikan Tradisi, Menggerakkan Kemandirian

​Melalui sistem administrasi yang dulu dipecah dari Cianjur hingga kini menjadi kabupaten mandiri, Sukabumi telah membuktikan diri sebagai lumbung pangan yang strategis. Sisa-sisa perkebunan VOC di selatan dan Salabintana menjadi saksi bisu betapa suburnya tanah ini.

​Kini, tugas besar ada di tangan generasi penerus untuk menjaga industri kerakyatan ini tetap berkelanjutan melalui inovasi teknologi pengolahan tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Editor: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist