SUKABUMISATU.com – Debur suara aliran air di bawah Jembatan Leuwi Pariuk kini tak lagi terdengar menenangkan bagi warga Desa Sekarwangi dan Desa Tenjo Jaya. Sebaliknya, suara itu kini terdengar seperti lonceng peringatan akan bencana yang bisa datang kapan saja.
Kondisi jembatan yang menghubungkan dua desa tersebut kini sangat memprihatinkan. Fondasi utama yang seharusnya berdiri kokoh, kini nampak “menggantung” setelah terus-menerus dihantam dan tergerus derasnya arus sungai. Retakan-retakan besar mulai menjalar, seolah memberi sinyal bahwa kekuatan beton tersebut sudah mencapai titik batasnya.
Setiap hari, ratusan warga termasuk anak-anak sekolah dan para petani, terpaksa melintasi jalur ini dengan perasaan was-was. Tak ada pilihan lain, karena jembatan ini adalah urat nadi kehidupan mereka.
Jeritan dari Bibir Sungai
Kepala Desa Sekarwangi, Abeng Baenuri, tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya saat meninjau lokasi. Baginya, melihat warganya melintas di atas jembatan yang nyaris ambruk itu seperti melihat mereka sedang berjudi dengan nyawa.
”Jujur saja, setiap kali hujan deras turun, jantung saya berdegup kencang. Saya khawatir jembatan ini ambrol saat warga sedang melintas. Fondasinya sudah habis tergerus air, sudah tidak ada lagi penahannya,” ujar Abeng dengan nada getir kepada sukabumisatu.com. Jumat, (13/02/26).
Kebutuhan akan perbaikan bukan lagi sekadar urusan estetika jalan, melainkan soal keselamatan nyawa manusia. Jika jembatan ini putus, maka mobilitas ekonomi dan akses pendidikan bagi warga di dua desa tersebut dipastikan akan lumpuh total.
Menaruh Harap pada Gubernur Dedi Mulyadi
Di tengah kepasrahan, warga hanya bisa menengadah dan berharap suara mereka sampai ke telinga orang nomor satu di Jawa Barat. Lewat Kepala Desa, mereka menitipkan pesan penuh harap agar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, segera turun tangan.
”Warga sudah sering mengeluh dan minta tolong. Kami memohon dengan sangat kepada Bapak Gubernur Dedi Mulyadi, tolong tengok kami di sini. Jangan tunggu ada korban jiwa baru diperbaiki. Kami butuh jembatan ini kokoh kembali agar kami bisa tidur nyenyak dan anak-anak bisa sekolah dengan aman,” tambah Abeng.
Kini, Jembatan Leuwi Pariuk berdiri dalam sunyi yang mencekam, menunggu uluran tangan pemerintah sebelum alam benar-benar meruntuhkannya.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra









