SUKABUMISATU.com – Terik matahari siang menyengat kawasan Terminal Cibadak, sukabumi/">Kabupaten Sukabumi, Rabu (18/03/2026). Di tengah panas yang menyelimuti, deretan angkot berwarna hijau jurusan Cibadak–Cikidang tampak terparkir rapi. Namun bukan karena antre menunggu giliran jalan, melainkan karena sepinya penumpang.
Beberapa sopir terlihat duduk santai, bercengkrama satu sama lain. Ada pula yang sesekali menawarkan jasa kepada warga yang melintas di sekitar pasar. Tapi hingga siang hari, tak banyak yang naik.
Maman, salah seorang sopir angkot jurusan Cikidang, mengaku kondisi menjelang lebaran tahun ini terasa semakin berat dibanding sebelumnya. Ia bahkan menyebut pendapatannya terus menurun hingga kerap merugi.
“Tahun sekarang mah tekor. Dari pagi juga belum kebagian penumpang,” ujar Maman saat ditemui di Terminal Cibadak.
Menurutnya, kehadiran transportasi online seperti ojek berbasis aplikasi hingga layanan travel door to door menjadi penyebab utama sepinya penumpang angkot. Kemudahan yang ditawarkan layanan tersebut membuat masyarakat beralih.
“Sekarang banyak yang naik grab sama travel, bisa sampai ke rumah. Jadi angkot makin sepi,” katanya.
Kondisi ini membuat para sopir angkot harus bertahan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara itu, kewajiban operasional tetap harus dipenuhi, mulai dari uji KIR, pajak kendaraan, hingga izin trayek.
“Kalau kita kan harus KIR, pajak, trayek. Sementara yang lain bebas-bebas saja,” keluhnya.
Di tengah kondisi tersebut, Maman hanya berharap keadaan bisa kembali normal seperti dulu, ketika angkot masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk beraktivitas.
“Harapannya ke depan ya pengen biasa lagi, penumpang ada. Sekarang mah sepi sekali,” ucapnya lirih.
Pemandangan angkot yang lebih banyak terparkir dibanding beroperasi menjadi potret nyata perubahan pola transportasi di Sukabumi. Di satu sisi, kemajuan teknologi menghadirkan kemudahan, namun di sisi lain menyisakan cerita perjuangan bagi para sopir angkutan konvensional yang kini harus berjuang lebih keras untuk bertahan.
Reporter: Suhendi Soex







