SUKABUMISATU.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang membuat anak-anak kerap sibuk dengan gawai, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) menghadirkan kembali tradisi dongeng melalui program Dongeng Keliling Berbasis Budaya Lokal di SD Negeri Pasirpanjang dan SD Negeri Rancasari.
Program yang menyasar siswa kelas 1 dan 2 ini membawakan kisah Lutung Kasarung serta Kisah Nabi Sulaiman dan Raja Semut. Cerita disampaikan secara teatrikal dan interaktif, dipadukan dengan diskusi ringan mengenai nilai moral seperti empati, kejujuran, dan kerja sama.
Indra Lesmana (PGSD) dan Wafa Parhatil Fuadah (PBI) sukses memikat perhatian siswa dengan gaya mendongeng yang ekspresif. Sementara itu, acara dipandu meriah oleh Sandef Nisa Nurmasa, Novita Fitriani, dan Lena Alfiyana, serta dimeriahkan dengan sesi ice breaking oleh Uput Putriyani. Dukungan teknis dan dokumentasi ditangani oleh Asti Lestari, Siti Mariana, dan Yunita, dengan pengamanan serta pendampingan dari mahasiswa PJKR: Aqil Aimar Rustandi, M. Abdul Majid, Afifudin, dan Ahmad Toriq.
Ketua kelompok KKM, Syamsul Ma’arif, menyebutkan bahwa dongeng merupakan bagian penting dari warisan budaya yang perlu terus dihidupkan. “Guru-guru menyambut positif program ini karena terbukti bermanfaat untuk pembentukan karakter siswa,” ujarnya.
Selama dua hari pelaksanaan, anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka tidak hanya terhibur, tetapi juga mulai mempraktikkan nilai-nilai yang disampaikan, seperti berani meminta maaf dan membantu teman.
Indra Lesmana berharap kegiatan ini menjadi jembatan agar anak-anak tetap memiliki ruang berimajinasi di tengah dominasi gadget. “Dengan dongeng, anak-anak bisa belajar banyak hal dari cerita bermakna. Dongeng hadir bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk memperkaya rasa ingin tahu serta menanamkan pesan moral yang mendalam,” ungkapnya.
Program ini pun mendapat apresiasi dari guru dan orang tua, yang menilai dongeng efektif menumbuhkan empati serta kesadaran sosial sejak dini. (Redaksi)










