Di Balik Puing Sekarwangi: Kisah 18 Jiwa yang Kehilangan Tempat Benaung

Forkopimcam Kecamatan Cibadak mengunjungi penyintas kebakaran di Sekarwangi. Selasa, (22/09/2026).

SUKABUMISATU.com, CIBADAK — Ketenangan di Kampung Sekarwangi RT 01/RW 20, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah menjadi kepanikan pada Sabtu (19/9/2026) dini hari. Sekitar pukul 01.00 WIB, percikan api akibat korsleting listrik dengan cepat membesar, merayapi dinding-dinding rumah, dan menghanguskan tempat bernaung empat keluarga.

Kini, beberapa hari pascakejadian, puing-puing hitam sisa kebakaran mulai dibersihkan secara gotong royong. Senyum para penyintas perlahan mulai terbit saat bantuan logistik berdatangan, meski cemas masih membayang. Di balik kehangatan uluran tangan petugas dan tetangga, ada harapan besar yang belum terwujud: material bangunan untuk kembali mendirikan atap tempat mereka berteduh.

Kebakaran tersebut menghancurkan tiga rumah hingga rusak berat—masing-masing milik Ani Rohani yang dihuni tiga jiwa, Yeti Nurhayati bersama empat anggota keluarga, serta Trio Mediansyah yang mendiami rumah itu bersama enam jiwa. Sementara itu, satu rumah milik Tarmo yang dihuni lima jiwa mengalami rusak sedang. Kerugian materiil ditaksir mencapai Rp600 juta.

Baca Juga  Gudang Sarpras RSUD Sekarwangi Terbakar, Manajemen Pastikan Pelayanan Tetap Normal

Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam musibah ini. Namun, 18 jiwa terpaksa kehilangan tempat tinggal utama mereka.

Mengungsi dan Bertahan Hidup

Untuk sementara waktu, para korban harus rela membagi ruang di rumah kerabat dan tetangga. Sebagian dari mereka bahkan menumpang di kediaman ketua RW setempat.

“Untuk korban saat ini tinggal di rumah saudaranya Pak RW,” ujar Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak, Mawaldi, Selasa (22/9/2026).

Pada Selasa siang, bantuan masa tanggap darurat mulai mengalir ke lokasi kejadian. BPBD Kabupaten Sukabumi menyalurkan bantuan berupa material dasar, sandang, pangan, peralatan rumah tangga, triplek, hingga genteng baja ringan. Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi turut melengkapi dengan bantuan bahan makanan, perlengkapan mandi, dan mi instan.

Mawaldi memastikan bahwa seluruh logistik dasar yang masuk disalurkan secara merata tanpa terkecuali.

“Untuk semua, dibagi-bagi itu, untuk semuanya,” tegasnya.

Baca Juga  Semarak HUT ke-81 RI, Ratusan Warga Kebon Randu Cibadak Jajal Rute Terjal Jalan Sehat ke Bukit Panenjoan

Asa di Bawah Puing Bangunan

Meski kebutuhan pangan dan pakaian mulai terpenuhi, perjuangan para korban untuk membangun kembali kehidupan mereka masih panjang. Atap pelindung dari hujan dan terik matahari menjadi kebutuhan paling mendesak saat ini. Bantuan genteng dan triplek yang ada masih jauh dari kata cukup untuk memperbaiki seluruh kerusakan.

Berdasarkan permohonan resmi dari Kelurahan Cibadak kepada BPBD Kabupaten Sukabumi, warga terdampak masih sangat membutuhkan pasokan material bangunan tambahan, empat lembar terpal ukuran besar, serta 300 karung untuk proses pembersihan puing.

“Kebutuhan mendesak material kurang, material bangunan buat itu atap,” tambah Mawaldi.

Di balik penanganan bencana ini, solidaritas antarlembaga dan warga begitu terasa. P2BK Cibadak bahu-membahu bersama Tagana, perangkat kelurahan, kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, Damkar, hingga Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) untuk membersihkan sisa-sisa reruntuhan.

Anggota Tagana Kecamatan Cibadak, Raphael, menyebutkan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan bentuk penanganan cepat agar warga tidak terpuruk terlalu lama.

Baca Juga  Nyawa di Ujung Bambu: Jembatan Tua di Cibadak Miring dan Nyaris Ambruk, Warga Bertaruh Nyawa Tiap Hari

“Penyaluran dilakukan setelah adanya pendataan dan koordinasi dengan unsur terkait di lokasi kebakaran,” tutur Raphael.

Pembersihan sisa kebakaran kini terus berjalan. Bagi Ani, Yeti, Trio, Tarmo, dan keluarga mereka, setiap lembar terpal dan keping seng yang datang saat ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan jembatan harapan untuk bisa kembali tidur nyenyak di bawah atap rumah sendiri.

Reporter: Suhendi Soex

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *