SUKABUMISATU.com – Luka di tubuh Almarhum Kakek Mukdis (80) mungkin sudah tertutup tanah, namun luka di hati keluarganya kembali menganga lebar setelah pelaku yang tidak lain adalah tetangganya sendiri kembali berkeliaran tak lama setelah anggota keluarga meninggal.
Kejadian memilukan itu menimpa Warga Kampung Sukasari, Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya pada 9 November 2024 lalu. Aris Ansori (32) cucu korban harus menelan ludah pahit saat menceritakan kembali kejadian memilukan itu pada sukabumisatu.com. Kamis, (05/03/2026).
Kini, di tengah rasa sesak kehilangan, keluarga korban hanya punya satu harapan: Keadilan. Sebuah kata yang dirasa sangat mahal bagi mereka rakyat kecil.
Tragedi Berdarah di Rumah Sederhana
Peristiwa memilukan itu meledak pada November 2024 lalu. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, berubah menjadi saksi bisu aksi kekerasan yang brutal. Kakek Mukdis ditemukan bersimbah darah dengan luka mengerikan di bagian kepala, lengan, hingga sekujur tubuhnya.
Setelah enam hari berjuang melawan maut di RSU H. Mustopa, sang kakek akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 15 November 2024. Isak tangis pecah, namun badai sesungguhnya baru saja dimulai saat proses hukum berjalan.
“Gangguan Jiwa” Jadi Tameng, Pelaku Melenggang Bebas?
Kasus ini sempat ditangani Polres Tasikmalaya, namun pil pahit harus ditelan keluarga. Terduga pelaku tidak ditahan dengan alasan klasik: Riwayat gangguan kejiwaan. Sebuah kesepakatan damai sempat dibuat. Keluarga pelaku memberikan santunan Rp15 juta dan berjanji pelaku tidak akan kembali ke wilayah Cikalong. Namun, janji tinggal janji. Kini, pelaku dikabarkan sudah kembali berada di rumah orang tuanya—tepat di depan mata keluarga korban yang masih berduka.
”Kakek saya meninggal dengan luka di mana-mana. Kami melihat sendiri perjuangan beliau di saat-saat terakhir. Bagaimana mungkin kami bisa tenang jika orang yang menghabisinya kini berkeliaran lagi di depan rumah?” ungkap Aris Ansori (32), dengan suara bergetar.
Mengetuk Pintu Hati Dedi Mulyadi
Bagi Aris dan keluarganya, uang belasan juta rupiah tak akan pernah bisa menggantikan sosok kakek tercinta. Keberadaan pelaku di lingkungan mereka bukan hanya soal trauma, tapi soal rasa aman yang dirampas.
Merasa jalan buntu, keluarga kini melayangkan harapan kepada orang nomor satu di Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi.
”Kami memohon kepada Bapak Dedi Mulyadi. Tolong bantu kami, Pak! Kami rakyat kecil hanya ingin keadilan ditegakkan seadil-adilnya. Kalau memang sakit jiwa, harusnya ada penanganan medis yang jelas, bukan dibiarkan kembali menghantui kami,” tegas Aris penuh harap.
Kini, keluarga Kakek Mukdis hanya bisa menunggu. Menunggu apakah hukum akan berpihak pada kebenaran, ataukah jeritan mereka hanya akan menguap di antara debu-debu jalanan Cikalong.
Editor: Demi Pratama Adiputra












