SUKABUMISATU.com — Lebih dari 129 jiwa di Desa Rambay, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, masih terisolasi akibat putusnya jembatan penghubung satu-satunya pasca banjir bandang yang terjadi pada Senin (28/07/2025) pukul 16.20 WIB.
Jembatan gantung yang menjadi akses vital untuk sekolah, ekonomi, dan layanan kesehatan hanyut terbawa derasnya arus air. Saat ini, warga harus menyeberangi sungai dengan alat seadanya, menantang keselamatan demi bertahan hidup.
“Kami sangat mendesak agar jembatan darurat segera dibangun. Tanpa itu, warga tidak bisa beraktivitas. Anak-anak tidak bisa sekolah, logistik sulit masuk, dan perekonomian warga lumpuh,” ungkap Kepala Desa Rambay, Yanto, saat ditemui di lokasi.
Respons Lapangan Mulai Terlihat, Tapi Belum Cukup
Meskipun belum ada kehadiran langsung Camat Tegalbuleud, pihak kecamatan telah menugaskan Kasi Trantib untuk turun langsung ke lokasi. Beberapa unsur lainnya juga terlibat dalam respons awal, antara lain:
- Koramil Tegalbuleud – Babinsa
- Polsek Tegalbuleud – Bhabinkamtibmas
- P2BK (Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan)
- Tagana Kabupaten Sukabumi
- Destana dan Satlinmas Desa Rambay
Pada Rabu (30/07/2025), gabungan relawan dan warga bahu-membahu melakukan evakuasi, pembersihan rumah warga, dan puing-puing jembatan yang hanyut. Namun demikian, kehadiran alat berat dan bantuan logistik masih sangat minim.
Kebutuhan Mendesak: Jembatan Darurat dan Bantuan Logistik
Kepala Desa Yanto menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah pembangunan jembatan darurat, karena itu menyangkut 129 Jiwa dari 50 KK yang masih terisolasi. Akses layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan distribusi pangan juga terganggu dan saat ini warga menggunakan jalur sungai secara manual yang membahayakan keselamatan mereka.
“Kami butuh bantuan secepatnya. Gotong royong sudah kami lakukan, tapi ini bukan soal ketahanan warga saja. Pemerintah harus hadir secara konkret di saat genting seperti ini,” tambah Yanto.
Bencana Bisa Datang Lagi, Apa Pemerintah Sudah Siap?
Dengan nilai kerugian yang ditaksir mencapai Rp750 juta, dan rusaknya 46 rumah serta satu masjid, bencana ini menjadi alarm keras akan pentingnya kesiapsiagaan infrastruktur di daerah rawan.
Pertanyaannya kini bukan hanya kapan bantuan datang, tapi apakah pemerintah siap menjadikan bencana ini pelajaran? Atau akan dibiarkan menjadi daftar panjang krisis yang luput dari perhatian?
Editor: Demi Pratama Adiputra











