SUKABUMISATU.com – Guratan lelah di wajah warga RT 02/RW 011, Kedusunan Cibatu Hilir, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, tak menyurutkan semangat mereka. Di bawah bayang-bayang mendung yang sesekali menumpahkan gerimis, puluhan warga tampak sibuk menyusun batu dan memasang kawat bronjong. Mereka sedang berpacu dengan waktu untuk menyambung kembali nadi kehidupan yang sempat terputus.
Bencana itu datang pada Kamis sore (04/12/2025). Hujan deras yang mengguyur tak henti membuat tebing di sisi jalan kabupaten itu menyerah. Sekitar pukul 14.30 WIB, tanah amblas seketika, membawa separuh badan jalan ke dasar jurang. Akses vital yang menghubungkan Desa Tenjojaya dan Desa Sekarwangi itu pun lumpuh total.
Bukan sekadar jalan yang hilang, keselamatan warga pun kini dipertaruhkan. Satu unit rumah yang dihuni oleh empat Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung, sementara enam rumah tetangganya kini berada di bibir ancaman longsor susulan.
Keajaiban Swadaya di Tengah Keterbatasan
Di saat bantuan alat berat belum memungkinkan menjangkau titik tersebut, warga memilih tidak berpangku tangan. Dengan semangat kekeluargaan yang masih kental, mereka menggalang dana dan tenaga secara swadaya.
”Ini murni gerakan hati masyarakat. Kami bahu-membahu memperbaiki jalan ini agar aktivitas warga tidak mati total,” ujar Kepala Desa Sekarwangi, Abeng Baenury, saat meninjau lokasi pekerjaan.
Meski status jalan tersebut kini kembali menjadi jalan desa, Abeng menyebutkan bahwa BPBD Kabupaten Sukabumi telah merespons cepat dengan menyalurkan 50 unit bronjong untuk memperkuat TPT (Tempat Penahan Tanah). Sisanya? Datang dari kebaikan hati para donatur, pengusaha lokal, hingga recehan dari para pengguna jalan yang peduli.
”Pemerintah desa, donatur swasta, dan masyarakat mengerjakan perbaikan dengan volume sekitar 20 meter. Biayanya kami taksir mencapai Rp35 juta. Harapan kami hanya satu: jalan ini bisa normal kembali secepatnya,” tambah Abeng penuh harap.
Bertarung dengan Cuaca
Perjuangan di lapangan tidaklah mudah. Yanto (50), salah satu tokoh masyarakat setempat, menceritakan bagaimana mereka sudah 11 hari berkubang dengan lumpur dan batu. Musuh terbesar mereka saat ini adalah langit yang sulit ditebak.
”Kendalanya ya cuaca. Kalau hujan turun, kami terpaksa berhenti demi keselamatan. Pekerjaan jadi tertunda, tapi semangat kami tidak luntur. Kami ingin akses ini segera bisa dilewati anak-anak sekolah dan warga yang bekerja,” ungkap Yanto sambil menyeka keringat.
Kini, tumpukan batu dan anyaman kawat itu menjadi saksi bisu betapa kuatnya ikatan sosial warga Sekarwangi. Mereka berharap, pemerintah daerah dapat memberikan dukungan tambahan agar pemulihan akses ini selesai lebih cepat, sebelum hujan kembali datang membawa ancaman yang lebih besar.
Reporter: Suhendi Soex/Mawaldi
Editor: Demi Pratama Adiputra






