SUKABUMISATU.com – Krisis air bersih akibat kemarau panjang kembali menghantui warga Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Mengeringnya sejumlah sumber mata air memaksa masyarakat setempat bertahan hidup dengan segala keterbatasan.
Merespons kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi menerjunkan armada bantuan air bersih pada Sabtu (25/7/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.
Bantuan dipusatkan di Kampung Babakan RT 02, 03, dan 04 RW 08, Desa Cisarua. Total sebanyak 10.000 liter air bersih disalurkan—masing-masing 5.000 liter dari BPBD dan 5.000 liter dari PMI Kabupaten Sukabumi—yang diserbu oleh 138 Kepala Keluarga (KK) terdampak.
Proses distribusi dilaksanakan atas permohonan Pemerintah Desa Cisarua dengan menerjunkan personel P2BK Kecamatan Nagrak, yakni Muhamad Maulana Farhan, Saepuloh, dan Winda Tri Sutrisno, serta didampingi unsur Pemdes Cisarua, URC PB Desa Cisarua, dan PMI.
Pasokan Sementara, 16 RW Masih Nunggak Air
Meski bantuan telah bergulir, pasokan tersebut dinilai belum mampu menutupi dahaga seluruh warga desa. Sekretaris Desa Cisarua, Yunus Tobria, menegaskan bahwa kondisi kekeringan di wilayahnya sudah masuk kategori darurat.
“Alhamdulillah, hari ini BPBD dan PMI telah mengirimkan dua unit mobil air bersih. Tetapi yang menerima baru satu RW, sekitar 180 KK. Kalau untuk satu minggu, tentu tidak akan cukup,” ujar Yunus di lokasi distribusi.
Yunus membeberkan, Desa Cisarua memiliki puluhan wilayah yang hingga kini masih membutuhkan uluran tangan serupa. Sedikitnya terdapat 16 RW yang belum tersentuh distribusi air bersih, dengan perkiraan total warga terdampak mencapai 1.000 jiwa.
Rela Jalan 2 Kilometer Demi Mandi
Parahnya dampak kemarau ini memaksa warga mengambil langkah ekstra demi memenuhi kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus).
“Harapan kami bantuan air bersih bisa dilakukan secara kontinu. Kalau kemarau panjang, warga kesulitan air dari musim ke musim. Untuk mandi saja, ada yang harus berjalan sekitar dua kilometer ke sungai,” ungkap Yunus prihatin.
Kondisi berulang ini menjadi sinyal kuat bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk segera merealisasikan solusi jangka panjang, seperti pembangunan sumur bor, sistem pipanisasi, atau penyediaan sarana air bersih permanen agar warga tak selalu jadi langganan krisis setiap musim kemarau.
Warga Cisarua kini hanya bisa berharap guyuran hujan segera turun atau bantuan pasokan air terus mengalir secara berkala. Bagi mereka saat ini, air bukan lagi sekadar kebutuhan harian, melainkan penopang hidup yang tak bisa ditunda.
“Semoga cuaca segera berubah dan pemerintah terus hadir membantu masyarakat,” pungkas Yunus. (mawaldi)












