Meluruskan Sejarah Hari Nelayan: Mengembalikan Khittah Tradisi dari Pergeseran Makna Budaya

Firman Hidayat, Ketua Paguyuban Padjadjaran Anyar.

SUKABUMISATU.com – Prosesi pemilihan Putri Nelayan yang rutin digelar dalam Perayaan Hari Nelayan di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi menuai kritik tajam. Sorotan keras ini datang dari Ketua Paguyuban Padjadjaran Anyar, Firman Hidayat.

​Bukan esensi acaranya yang dipersoalkan, melainkan adanya pergeseran makna budaya. Tokoh Muda yang akrab disapa Abah Firman, yang juga merupakan cucu dari Rd. Oetom Bustomi—tokoh sekaligus sesepuh penggagas Hari Nelayan Palabuhanratu—mengkritisi keras penyematan peran atau gelar Ratu Pantai Selatan yang dinobatkan kepada pemenang atau finalis Putri Nelayan.

​”Itu kan pemilihan Putri Nelayan, kenapa ujungnya memerankan Ratu Pantai Selatan? Jelas ini menyimpang secara adat dan tradisi. Putri nelayan ya putri nelayan, dan Ratu itu bukan putri nelayan,” tegas Firman dengan nada masygul. Selasa, (16/06/2026).

Pertanyakan Dasar Sejarah dan Arsip Disbudpora

Baca Juga  Buntut Dugaan Perkosaan, Ketua Panitia Hari Nelayan Jadi Tersangka

​Firman mempertanyakan landasan sejarah serta kajian akademis yang digunakan oleh panitia maupun Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi terkait pembiaran atau pelegalan konsep tersebut dalam prosesi adat Hari Nelayan.

​Menurutnya, konsep acara harus dikembalikan kepada khittah dan esensi awalnya agar tidak mengaburkan sejarah bagi generasi mendatang.

​”Jadi kalau temanya pemilihan Putri Nelayan, ya harusnya sesuaikan juga konsepnya sebagai putri nelayan. Jangan sampai merusak tatanan adat istiadat dan budaya yang diwariskan leluhur,” sambungnya.

Hilangnya Ritual Sakral Tradisi Leluhur

​Selain persoalan gelar, Firman juga sangat menyayangkan hilangnya sejumlah prosesi sakral yang dahulu menjadi ruh dari Syukuran Hari Nelayan. Beberapa ritual inti yang kini mulai tergerus di antaranya adalah:

Rajah Bubuka: Prosesi pembukaan spiritual yang sakral.

Mitembeyan: Ritual memulai jalannya upacara adat.

Baca Juga  Kenapa Warga Bandung Dilarang Berenang di Pantai Selatan? Simak Penjelasannya

Rasullan: Doa bersama sebagai penutup rangkaian acara syukuran.

​”Penggagas Hari Syukuran Nelayan itu salah satunya adalah almarhum kakek saya. Dan sebetulnya, upacara larung saji itu adalah adat kebiasaan dari nelayan Cirebon yang saat itu menjadi salah satu pengisi (penduduk) Palabuhanratu. Kalau adat asli Palabuhanratu sendiri, itu tidak ada larung saji ke laut,” ungkap Firman membuka tabir sejarah.

Menengok Sejarah: Riwayat Persatuan Nelayan Selatan Sukabumi

​Lebih lanjut, Firman menceritakan kilas balik sejarah perayaan ini. Dahulu, sang kakek, Rd. Oetom Bustomi, adalah sosok yang berhasil merangkul dan menyatukan seluruh komunitas nelayan di sepanjang pesisir selatan Sukabumi.

​Penyatuan tersebut mencakup para nelayan dari wilayah:

  • ​Cisolok
  • ​Palabuhanratu
  • ​Simpenan
  • ​Ciemas
  • ​Ujung Genteng
  • ​Minajaya
  • ​Tegalbuleud

​”Sebelum terpecah (mengadakan acara sendiri-sendiri) seperti sekarang, dulu syukuran nelayan itu terpusat semuanya di Palabuhanratu,” pungkas Firman.

Baca Juga  Sorotan Kritis dari Alun-Alun Gado Bangkong: Menjaga Ruh Tradisi di Syukuran Nelayan Palabuhanratu ke-66

​Kritik ini diharapkan menjadi evaluasi besar bagi para pemangku kebijakan dan pelaku budaya di Sukabumi agar perayaan pariwisata berbasis budaya tidak mengorbankan nilai-nilai luhur dan keaslian sejarah lokal. (Demi Pratama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *