SUKABUMISATU.com, CIBADAK – Sebuah pemandangan kontras tersaji di jantung pusat keramaian Kecamatan Cibadak. Hanya sepelemparan batu dari hiruk-pikuk kota, warga di wilayah Sekarwangi, Kelurahan Cibadak, harus bertaruh nyawa setiap hari saat melintasi jembatan gantung yang menghubungkan wilayah mereka dengan Desa Sekarwangi.
Kritik: Ironi Pembangunan di Pusat Kecamatan
Berdasarkan pantauan tim SUKABUMISATU.com di lokasi, kondisi jembatan ini sudah sangat tidak layak huni, apalagi untuk dilewati manusia. Struktur besi jembatan terlihat sudah miring ke satu sisi, menciptakan kemiringan yang membahayakan keseimbangan pejalan kaki.
Lebih memprihatinkan lagi, alas jembatan yang seharusnya menggunakan plat besi atau kayu yang kokoh, kini hanya menyisakan jajaran bambu (sasak) yang sudah lapuk dan bolong-bolong. Beberapa bagian tengah jembatan tampak hanya ditambal sulam dengan tumpukan bambu darurat yang diikat ala kadarnya.
Kondisi ini menjadi kritik tajam bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi, khususnya pihak Kelurahan Cibadak dan Desa Sekarwangi. Sebagai wilayah yang berada di area strategis dan padat penduduk, keberadaan jembatan “maut” ini seolah menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur belum menyentuh pelosok-pelosok kampung secara merata. Warga mempertanyakan, ke mana larinya anggaran pemeliharaan infrastruktur untuk jalur penghubung sepenting ini?
Sisi Humanis: Langkah Gemetar Anak Sekolah dan Kaum Ibu
Di balik kerusakan fisik tersebut, tersimpan kecemasan mendalam bagi ratusan warga yang menggantungkan hidup pada jembatan ini. Visual yang didapatkan redaksi menunjukkan momen mendebarkan saat sejumlah kaum ibu dan anak-anak perempuan, dengan langkah gemetar, harus mengantre satu per satu untuk meniti bambu-bambu yang goyah.
Sungai di bawah jembatan yang memiliki arus cukup deras saat hujan turun, menambah suasana mencekam bagi siapa saja yang melintas. “Setiap kali lewat sini, jantung rasanya mau copot. Apalagi kalau bawa barang belanjaan atau pas antar anak sekolah. Tapi mau bagaimana lagi, kalau mutar lewat jalan raya jauh sekali dan ongkosnya mahal,” keluh Hasmi Ketua Pemuda kampung kamandoran kepada SUKABUMISATU.com, Senin (30/03/2026).
Jembatan ini adalah urat nadi. Tanpanya, akses pendidikan bagi anak-anak sekolah dan akses ekonomi bagi pedagang kecil akan terputus. Warga merasa seolah dianaktirikan, dipaksa akrab dengan bahaya demi bisa menyambung hidup sehari-hari.
Kesimpulan: Menanti Langkah Nyata DPUPR dan Pemerintah Setempat
Persoalan jembatan penghubung Sekarwangi-Karangtengah ini bukan sekadar masalah teknis infrastruktur, melainkan masalah kemanusiaan. Pemerintah Daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Sukabumi didesak untuk tidak menutup mata.
Perbaikan permanen dengan konstruksi yang layak dan aman harus segera direalisasikan. Warga tidak butuh lagi sekadar peninjauan atau janji-janji manis dalam rapat koordinasi. Mereka butuh jembatan yang kokoh, tempat mereka bisa melangkah tanpa rasa takut akan terjatuh ke dasar sungai.
Redaksi SUKABUMISATU.com akan terus memantau respon dari pihak otoritas terkait mengenai kapan perbaikan nyata akan dimulai di lokasi ini.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra












