Selasa,21 April 2026
Pukul: 21:30 WIB

Perjuangan Siswa di Jampangtengah: Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Cimandiri Demi Ilmu Usai Jembatan Ambruk

Perjuangan Siswa di Jampangtengah: Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Cimandiri Demi Ilmu Usai Jembatan Ambruk

Rabu, 21 Januari 2026
/ Pukul: 15:09 WIB
Rabu, 21 Januari 2026
Pukul 15:09 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com, Jampangtengah– Pagi yang tenang di pinggiran Sungai Cimandiri kini tak lagi sama bagi warga Kampung Leuwidinding. Sejak akhir Desember lalu, riak air sungai yang biasanya menjadi pemandangan indah, kini menjadi rintangan besar bagi anak-anak sekolah yang mengejar masa depan.

​Rusaknya jembatan gantung yang menghubungkan Desa Tanjungsari (Kecamatan Jampangtengah) dengan Desa Sirnaresmi (Kecamatan Gunungguruh) memaksa para pelajar bertaruh nyawa. Tanpa jembatan sepanjang 48 meter itu, satu-satunya cara tercepat menuju sekolah adalah dengan menaiki perahu karet bantuan dari BPBD Kabupaten Sukabumi.

Berteman Cemas di Atas Perahu Karet

​Setiap pagi, seragam putih-merah dan putih-biru tampak berkerumun di bantaran sungai. Di bawah pengawasan petugas, mereka naik ke atas perahu karet dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa waswas.

Baca Juga  Jembatan Satu-Satunya Akses Antar Kampung di Desa Cibitung Ambruk

​Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam. Baginya, pemandangan anak-anak menyeberang sungai dengan perahu bukanlah hal yang ideal, terutama saat cuaca ekstrem membayangi Sukabumi.

​”Jembatan ini adalah urat nadi. Ada warga dari tiga desa yang terdampak langsung. Kami sangat khawatir akan keselamatan warga, terutama pelajar, jika tiba-tiba hujan deras turun dan debit air sungai meluap kembali,” ujar Dilah saat ditemui awak media, Rabu (21/1/2026).

Dilema Orang Tua: Pilih Memutar Jauh atau Risiko Sungai

​Bagi para orang tua seperti Popi, warga Desa Tanjungsari, setiap hari adalah perjuangan antara waktu dan keselamatan. Mengantar anak sekolah kini menjadi kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran.

Baca Juga  Overload dan Abaikan Larangan, Mobil Tambang Ganggu Perbaikan Jalan Provinsi di Jampang Tengah

​”Kalau memutar arah, jaraknya hampir tiga kali lipat jauhnya. Terpaksa lewat sini saja (seberangi sungai),” ungkap Popi dengan nada getir.

​Jika air sungai sedang tinggi dan arus terlalu deras, perahu karet pun tak berani melintas. Pilihannya hanya satu: memutar jauh melewati area PT Siam Cement Group (SCG). “Suami saya kalau kerja pakai motor terpaksa memutar lewat sana. Saya yang antar anak sekolah harus bolak-balik menunggu, sangat melelahkan,” tambahnya.

Harapan di Tengah Derasnya Arus

​Masyarakat kini hanya bisa berharap agar jembatan yang menjadi akses utama menuju sekolah dan tempat kerja ini segera diperbaiki secara permanen. Penggunaan perahu karet hanyalah solusi sementara yang penuh risiko, apalagi di tengah musim penghujan yang belum usai.

Baca Juga  Dinas Bina Marga Jabar Tegaskan Batas Muatan Maksimal 8 Ton di Ruas Jalan Jampang Tengah–Kiara Dua

​Hingga berita ini diturunkan, warga masih bergantung pada bantuan BPBD dan berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata sebelum arus sungai yang ganas kembali memutus mimpi anak-anak Leuwidinding untuk bersekolah dengan aman.

Reporter: Aris

Editor: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist