Jaga Ekosistem Gunung Salak, Absolute Coffee Sulap Kopi Cipeuteuy Jadi Komoditas Berkelas

Perkebunan Kopi di Gunung Salak. (Istimewa)

SUKABUMISATU.com, Kabandungan — Kawasan lereng Gunung Salak kini tak hanya dikenal dengan pesona alamnya yang asri. Di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, sebuah inisiatif besar tengah tumbuh: membangun ekosistem kopi berkelanjutan yang memadukan kelestarian hutan dengan kesejahteraan perut petani.

​Gerakan ini dimotori oleh Absolute Coffee, sebuah unit usaha sosial yang merangkul komunitas petani lokal di wilayah penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Lewat pendekatan agroforestri, mereka membuktikan bahwa mencari cuan tidak harus merusak alam.

Bukan Sekadar Bisnis, Tapi Jaga Ekologi

​Pendiri Absolute Coffee, Muhamad Kosar, menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah menempatkan petani di posisi terhormat dalam rantai nilai kopi.

​“Kopi bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari sistem ekologi yang lebih luas,” ungkap Kosar kepada sukabumisatu.com. Selasa, (16/03/2026).

Baca Juga  Ada Patok BPN dan Wisata Tanpa Izin di Hutan Lindung Halimun Salak, Kemana Pemerintah Daerah?

​Menurutnya, praktik budidaya di Cipeuteuy sangat memperhatikan keseimbangan lingkungan. Dengan sistem agroforestri, pohon kopi ditanam di bawah naungan pohon hutan, sehingga fungsi konservasi air dan tanah tetap terjaga.

Edukasi Petani: Dari Bibit hingga Petik Merah

​Tak main-main, Absolute Coffee kini mendampingi 7 Kelompok Tani Hutan (KTH) dan 13 Kelompok Tani (Poktan). Para petani diedukasi secara teknis, mulai dari:

Pemilihan bibit unggul.

Pengelolaan kebun yang ramah lingkungan.

Teknik Panen Selektif: Hanya memetik buah kopi yang sudah merah matang sempurna (cherry).

Serta perbaikan proses pasca-panen melalui fermentasi dan pengeringan yang terukur.

 

Baca Juga  Kerjasama Kemitraan Konservasi dengan TNGHS, 14 Kelompok Tani Hutan Sukabumi Dilibatkan

Kolaborasi dengan Star Energy Geothermal​Langkah Absolute Coffee kian mantap berkat sokongan dari Star Energy Geothermal yang beroperasi di wilayah tersebut. Dukungan ini mencakup pendanaan infrastruktur, peningkatan kapasitas teknis, hingga penguatan branding untuk menembus pasar yang lebih luas.

​“Dukungan ini berdampak nyata pada produktivitas dan pendapatan usaha kami,” tambah Kosar. Saat ini, omzet rata-rata usaha kopi ini sudah menyentuh angka Rp150 juta per tahun.

RUBE: Ruang Belajar dari Kebun ke Cangkir

​Menariknya, Absolute Coffee juga menghadirkan Rumah Belajar (RUBE) Kopi Cipeuteuy. Kedai kopi yang mereka bangun di desa bukan sekadar tempat nongkrong, melainkan laboratorium edukasi.

​Di RUBE, siapa pun—mulai dari petani, mahasiswa, hingga wisatawan—bisa belajar langsung tentang proses panjang kopi: mulai dari menanam di lereng Salak hingga tersaji nikmat di dalam cangkir.

Baca Juga  Wabup Iyos Somantri dan Kelompok Tani TNGHS Bahas Pemeberdayaan Sektor Perikanan dan Peternakan

Reporter: Chuba Yusuf

Editor: Demi Pratama Adiputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *