SUKABUMISATU.com, Kota Sukabumi – Ada yang berbeda dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-53 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Kabupaten Sukabumi tahun ini. Tak sekadar potong tumpeng, partai berlambang Ka’bah ini resmi memancangkan bendera perjuangan baru: Politik Hijau.
Bertempat di Pendopo Kota Sukabumi, Senin (5/1/2026), perayaan yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh jajaran elit DPC PPP Kabupaten Sukabumi serta Bupati Sukabumi, Asep Japar. Di usia yang lebih dari setengah abad, PPP Sukabumi memilih untuk “rebranding” arah perjuangan yang lebih ramah bumi namun tetap religius.
Bukan Sekadar Seremonial
Ketua DPC PPP Kabupaten Sukabumi, Andri Hidayana, menegaskan bahwa momen Harlah ke-53 ini adalah starting point atau titik tolak bagi seluruh kader untuk mulai mensosialisasikan narasi politik keberlanjutan.
“Harlah ini adalah momentum konsolidasi. Kami menegaskan arah Politik Hijau PPP menuju 2029. Ini adalah politik yang berpihak pada kelestarian alam, pembangunan berkelanjutan, tanpa meninggalkan kesejahteraan umat sebagai pondasi utama,” tegas Andri kepada Sukabumisatu.com.
Andri menambahkan, pilihan merayakan secara sederhana di Pendopo merupakan simbol bahwa PPP ingin tetap membumi. Baginya, kesederhanaan adalah cerminan keikhlasan kader dalam berjuang di tengah masyarakat.
Visi ‘Sukabumi Mubarokah’ dan Dukungan Bupati
Kehadiran Bupati Sukabumi, Asep Japar, memberikan sinyal positif bagi soliditas partai di tingkat daerah. Andri mengaku bangga atas kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi tersebut, yang dinilainya sebagai suntikan moral bagi para kader.
”Kehadiran Pak Bupati adalah kehormatan bagi kami. Ini menjadi energi tambahan bagi kader untuk terus berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” lanjutnya.
Dengan mengusung tagline ‘Bersama Ka’bah Sukabumi Mubarokah’, PPP Kabupaten Sukabumi mencoba memadukan nilai religius dengan kepedulian lingkungan yang inklusif. Pesannya jelas: menatap 2029 dengan wajah baru yang lebih segar, hijau, dan berorientasi pada kepentingan rakyat kecil.
Editor: Demi Pratama Adiputra












