SUKABUMISATU.com, Cibadak – Pagi yang semula penuh harap untuk menjemput kesembuhan berubah menjadi duka yang menyayat hati di kawasan pertokoan Kampung Delima, Kelurahan Cibadak. Di depan sebuah pusat kebugaran “Korea Healthy Life,” seorang ibu bernama Acih (56) mengembuskan napas terakhirnya tepat di hadapan putra bungsunya, Jumat (26/12/2025).
Bukan jerit kesakitan yang menjadi kenangan terakhir, melainkan sebuah pelukan dan untaian kata maaf yang tulus dari sang ibu sebelum raga itu tak lagi bergerak.
Firasat dan Kata Maaf di Sela Napas yang Sesak
Langkah kaki Muldan terasa berat saat mengenang kembali detik-detik kepergian ibunya. Datang jauh-jauh dari Cikembar dengan sepeda motor, mereka membawa satu harapan: kaki sang ibu tak lagi bengkak dan napasnya kembali lega.
“Tadi di rumah masih sempat sarapan bubur, masih sehat. Tapi memang Mamah mengeluh sedikit pengap (sesak),” kenang Muldan dengan mata berkaca-kaca di lokasi kejadian.
Setibanya di depan stasiun Cibadak, tepat saat hendak melangkah naik menuju lantai dua ruang terapi, tubuh Ibu Acih tak lagi mampu menopang beban. Di anak tangga itu, sang ibu terjatuh. Namun sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, sebuah wasiat lisan meluncur dari bibir almarhumah.
“Pas mau tidur (berbaring), Beliau minta air. Sambil minta maaf ke saya… katanya kalau ada apa-apa mohon maaf ya. Habis itu langsung seperti orang tidur saja,” tutur Muldan lirih. Sebuah permintaan maaf yang menjadi salam perpisahan bagi sang anak bungsu.
Pilihan Naik Motor yang Menjadi Takdir
Cerita pilu ini ditambah dengan penuturan tetangga korban, Dasril (35). Ia menyebut ada sebuah kejanggalan sebelum mereka berangkat. Pihak keluarga sebenarnya sudah menawarkan untuk menggunakan mobil agar lebih nyaman, namun almarhumah bersikukuh ingin dibonceng motor oleh anaknya.
”Beliau nggak mau pakai mobil, pengennya naik motor sama anaknya. Mungkin karena perjalanan jauh itu jadi kecapean atau masuk angin. Pas sudah masuk antrean dan mau duduk, beliau langsung pingsan,” ungkap Dasril.
Pihak Korea Healthy Life: Kejadian Sangat Mendadak
Hasna, salah satu staf di Korea Healthy Life, tampak masih syok dengan kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak pengelola belum sempat memberikan tindakan medis atau terapi apa pun karena Ibu Acih baru saja tiba.
”Almarhumah baru pertama kali datang. Beliau masih menunggu kartu sesi di bawah. Saat baru akan diarahkan ke lantai dua untuk pendataan riwayat penyakit, kondisinya tiba-tiba memburuk secara mendadak dan tidak tertolong,” jelas Hasna.
Evakuasi dalam Suasana Haru
Kejadian pukul 09.30 WIB itu segera mengundang kehadiran petugas gabungan dari Polsek Cibadak, Puskesmas Sekarwangi, hingga relawan Pramuka Peduli, Tagana, dan BPBD. Suasana di pertokoan yang biasanya bising oleh suara kereta api di Stasiun Cibadak, seketika hening saat jenazah dievakuasi.
Kini, harapan untuk sembuh itu telah beristirahat selamanya. Ibu Acih pulang ke Cikembar bukan membawa sehat, melainkan meninggalkan kenangan tentang ketegaran seorang ibu yang sempat meminta maaf sebelum menutup usia.
Reporter: Suhendi Soex/Mawaldi
Editor: Demi Pratama Adiputra







