SUKABUMISATU.com – Kecamatan Surade di Kabupaten Sukabumi menyimpan kekayaan alam, sejarah, dan geologi yang jarang dimiliki wilayah lain di Jawa Barat. Penemuan ribuan fosil hiu purba—termasuk gigi Megalodon—menjadi bukti bahwa kawasan pesisir ini pernah menjadi habitat biota laut raksasa jutaan tahun silam. Di balik keindahan alamnya yang eksotis, Surade juga menyimpan catatan panjang tentang peradaban kuno dan tokoh-tokoh penting dalam perjalanan sejarah Tatar Sunda.
Jejak Kerajaan Jampang Manggung
Berdasarkan tutur tinular masyarakat Pajampangan dan catatan Naskah Wangsakerta, Surade berkaitan erat dengan keberadaan Kerajaan Jampang Manggung, salah satu kerajaan tertua di Jawa Barat. Kerajaan ini dipimpin oleh Aki Sugiwanca, adik dari Aki Tirem, pendiri Kerajaan Salakanagara yang disebut sebagai kerajaan paling awal di Tatar Sunda.
Aki Sugiwanca diyakini bermukim di kawasan Pantai Karang Bolong sekitar 130 Masehi, menjadikan Surade sebagai pusat awal peradaban Pasundan. Dari wilayah inilah tatanan sosial, budaya, dan permukiman masyarakat pesisir mulai terbentuk.
Letusan Krakatau Purba Mengubah Peradaban
Peradaban awal tersebut kemudian terguncang oleh peristiwa dahsyat letusan Krakatau Purba pada tahun 535 Masehi. Letusan besar ini memicu tsunami dan banjir raksasa yang melanda pesisir selatan, termasuk Surade. Peristiwa geologis ini dipercaya menyebabkan terpisahnya Pulau Jawa dan Sumatra, membentuk Selat Sunda seperti yang kita kenal sekarang.
Sisa-sisa proses geologi dari ribuan tahun lalu kini terlihat pada struktur tebing, goa purba, serta lapisan batuan tua yang banyak ditemukan di wilayah Surade.
Tokoh Penyebaran Islam: Eyang Cigangsa
Pada abad ke-17, Surade kembali menjadi pusat penting peradaban melalui tokoh penyebar Islam, Sembah Dalem Santri atau Eyang Cigangsa. Beliau merupakan cucu Wangsa Arya Goparana, Raja Talaga Manggung, sekaligus sepupu Wiratanudatar, penguasa Cianjur.
Eyang Cigangsa dikenal sebagai ulama kharismatik yang membuka permukiman, mengajarkan Islam, dan memperkuat struktur sosial masyarakat Surade. Situs peninggalannya kini menjadi salah satu lokasi bersejarah yang masih ramai diziarahi.
Curug Luhur (Curug Cigangsa): Kemegahan Alam dan Nuansa Spiritual
Salah satu destinasi alam paling ikonik di Surade adalah Curug Luhur, yang juga dikenal dengan sebutan Curug Cigangsa. Air terjun megah setinggi sekitar 80 meter ini menjulang bak tirai air raksasa di tengah bentang alam yang masih sangat alami.
Lokasi curug ini berada tak jauh dari petilasan Eyang Cigangsa, memberikan nuansa historis sekaligus spiritual di sekitarnya. Terletak di Desa Surade, Curug Luhur dapat ditempuh sekitar dua jam perjalanan dari pusat Kota Sukabumi, melewati jalur selatan sejauh kurang lebih 60 kilometer.
Berbeda dengan air terjun pada umumnya, Curug Luhur menawarkan dua perspektif sekaligus.
Dari bawah, pengunjung dapat menyaksikan derasnya aliran air yang jatuh dari tebing tinggi, menciptakan percikan halus dan suasana sejuk.
Dari puncak, pengunjung disuguhi panorama lembah hijau yang terbentang luas, memberikan pengalaman visual yang menakjubkan dan jarang ditemui di air terjun lain.
Keunikan dua sudut pandang ini menjadikan Curug Luhur sebagai salah satu destinasi favorit bagi pecinta alam, fotografer, dan wisatawan yang ingin merasakan pengalaman petualangan yang berbeda di Surade.
Pesona Pesisir Surade: Pantai-Pantai Eksotis di Selatan Sukabumi
Surade dianugerahi garis pantai panjang dan beragam karakter, menjadikannya kawasan eksotis yang terus berkembang sebagai tujuan wisata.
• Pantai Karanggantungan
Tebing karang menjulang yang menyerupai Tanah Lot Bali menjadikan pantai ini salah satu spot foto terbaik di selatan Sukabumi. Sempat akan dibuatkan wisata dunia oleh pemerintah Belanda pada abad ke 18. Dan masuk dalam catatan dan peta yang dibuat Franz Wilhelm Junghuhn.
• Pantai Kuta Mara
Pantai berpasir putih dengan suasana tenang, cocok untuk wisata keluarga dan penikmat alam.
• Pantai Karang Bolong
Selain memiliki panorama indah, pantai ini memiliki nilai sejarah karena dianggap sebagai lokasi mukim Aki Sugiwanca pada abad ke-2 Masehi.
• Pantai Minajaya: Pantai Hijau Surade
Berjarak sekitar 6 km dari Surade, Pantai Minajaya di Pasiripis dikenal karena hamparan batu karang yang ditumbuhi rumput laut, membuat garis pantainya tampak hijau dari kejauhan.
Pantai ini juga menjadi lokasi pencarian rumput laut dan lobster, salah satu sumber penghidupan masyarakat setempat.
Surade: Perpaduan Sejarah, Geologi, dan Alam yang Menakjubkan
Surade bukan hanya sekadar kecamatan di selatan Sukabumi. Ia adalah ruang di mana peradaban kuno, sejarah kerajaan, jejak Islam, fenomena geologi purba, dan keindahan alam menyatu dalam satu wilayah. Dengan pengembangan yang tepat, Surade berpotensi menjadi kawasan wisata terpadu yang mampu memperkenalkan kekayaan Tatar Pajampangan kepada dunia.
Editor: Demi Pratama Adiputra









