SUKABUMISATU.com – Setiap hari, ribuan kendaraan harus bersabar melintasi kemacetan parah di Jalan Raya Sukabumi–Cianjur, terutama di sekitar kawasan industri Desa Titisan, Kecamatan Sukalarang. Titik macet utama berada di depan dua pabrik besar: PT Pratama Abadi Industri dan PT GSI, yang mempekerjakan puluhan ribu karyawan.
“Setiap sore pasti macet, karyawan dari dua pabrik itu pulang bersamaan. Macetnya bisa sampai tiga jam, dari jam tiga sore sampai magrib,” ujar Iwan (56), warga Kampung Cirumput, Kamis (31/7/2025). Ia menyebut jumlah karyawan PT Pratama saja mencapai sekitar 22 ribu orang.
Fenomena ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi konkret. Jalan sempit, kepadatan kendaraan pribadi dan angkutan umum, serta minimnya rekayasa lalu lintas menjadi kombinasi yang menjerat pengendara setiap pagi dan sore hari. Tak jarang, akses darurat untuk ambulans atau pemadam kebakaran pun terhambat akibat padatnya kendaraan.
Solusi Jangka Panjang: Tol Sukabumi–Ciranjang–Padalarang
Harapan baru muncul seiring diumumkannya pembangunan jalan tol Sukabumi–Ciranjang–Padalarang yang ditetapkan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Berdasarkan data dari kppip.go.id, proyek dengan nilai investasi Rp14,2 triliun ini akan mulai dikerjakan pada tahun 2025 dan ditargetkan selesai pada 2029.
Pada tahap awal, tol akan dibangun sepanjang 21 kilometer dari Sukabumi hingga Ciranjang. Selanjutnya, pembangunan akan diteruskan ke Padalarang sepanjang 24 kilometer. Jalur tol ini akan terkoneksi dengan Tol Padaleunyi di KM 111 dan diharapkan memangkas waktu tempuh dari Sukabumi ke Bandung secara drastis.
Pemerintah pusat, Pemprov Jawa Barat, serta pemerintah daerah yang dilewati jalur tol akan bersinergi melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Tol ini tidak hanya menjadi solusi kemacetan, tetapi juga strategi meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Langkah Antisipatif Sambil Menunggu Tol Rampung
Meski pembangunan tol menjadi solusi jangka panjang, masyarakat masih membutuhkan langkah konkret jangka pendek. Beberapa opsi yang disorot warga dan pemerhati transportasi meliputi:
- Manajemen rekayasa lalu lintas, seperti pengaturan jam kerja bergiliran untuk karyawan pabrik besar.
- Penambahan jalur alternatif di sekitar kawasan Sukalarang.
- Peningkatan transportasi massal, seperti bus karyawan terpadu atau shuttle yang mengurangi kendaraan pribadi.
- Penertiban parkir liar dan pedagang kaki lima yang mempersempit badan jalan.
Jika tidak ada intervensi jangka pendek, kemacetan di kawasan ini bukan hanya akan terus mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berpotensi menurunkan produktivitas dan efisiensi distribusi logistik regional.
Editor : Demi Pratama Adiputra











