SUKABUMISATU.com – Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Meskipun tidak menimbulkan kerusakan besar, kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa Sukabumi berada di wilayah rawan gempa, tepat di jalur Sesar Cimandiri, salah satu sesar aktif utama di Jawa Barat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa Sesar Cimandiri adalah patahan aktif yang menjadi sumber utama aktivitas seismik di wilayah ini. Sesar ini membentang dari Palabuhanratu hingga ke arah Bandung, melintasi sejumlah daerah seperti Nyalindung, Lembursitu, hingga Cibeber.
“Wilayah Sukabumi dan sekitarnya merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks secara geologi. Masyarakat perlu memahami potensi ini agar lebih siap dalam menghadapi bencana,” ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono.
Apa Itu Sesar dan Mengapa Bisa Menyebabkan Gempa?
Sesar adalah rekahan atau patahan pada lapisan batuan bumi yang telah mengalami pergeseran. Pergerakan di sepanjang sesar inilah yang dapat memicu gempa bumi.
Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sesar-sesar di Jawa Barat terbentuk akibat tumbukan dua lempeng besar, yaitu Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Energi yang terbentuk dari tumbukan ini tersimpan dalam batuan dan sewaktu-waktu bisa dilepaskan dalam bentuk gempa.
Di antara enam sesar besar di Jawa Barat, Sesar Cimandiri menjadi salah satu yang paling aktif. Penelitian menunjukkan bahwa sesar ini tidak hanya bergerak secara mendatar, tetapi juga menunjukkan pergerakan naik dan turun — yang membuatnya semakin kompleks.
Sejarah Panjang Aktivitas Gempa Sukabumi-Cianjur
Sejak tahun 1844, catatan sejarah menyebutkan bahwa kawasan Sukabumi dan Cianjur telah mengalami 15 kali gempa bumi merusak. Di antaranya adalah gempa tahun 1982 di Gandasoli dan dua gempa yang terjadi sepanjang tahun 2024 ini.
“Gempa bisa terjadi berulang karena potensi geologis kawasan. Karena itu, edukasi dan kesiapsiagaan harus ditanamkan sejak dini,” kata Penyelidik Bumi Ahli Madya dari Badan Geologi, Sukahar Eka Adi Putra.
Kenapa Edukasi Gempa Itu Penting?
Banyak masyarakat yang masih belum paham apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Edukasi kebencanaan penting untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerusakan, termasuk:
Mengenali tanda-tanda awal gempa
- Mengetahui posisi aman di dalam dan luar rumah
- Membuat rencana evakuasi keluarga
- Menyimpan tas siaga darurat
- Memperkuat struktur bangunan
Apalagi dengan temuan Segmen Lembursitu, segmen baru dari Sesar Cimandiri yang melintasi daerah Panglengseran hingga Baros, risiko gempa lokal di Sukabumi menjadi semakin nyata.
Mitigasi: Lebih Baik Siap daripada Panik
Pusat Survei Geologi kini sedang memetakan jalur sesar secara lebih detail di Sukabumi dalam skala 1:100.000 — menjadikannya kota percontohan (pilot project) nasional dalam mitigasi sesar aktif. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa di sepanjang jalur Cimandiri, terdapat sejumlah sesar minor yang belum terpetakan secara menyeluruh.
Itu artinya, selain waspada terhadap jalur sesar yang sudah diketahui, masyarakat juga harus menyadari bahwa potensi gempa bisa muncul dari sesar-sesar kecil yang belum teridentifikasi.
—
Kesimpulan: Hidup di Zona Rawan Bencana Harus Dibekali Ilmu
Gempa bumi tidak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa dikurangi dengan edukasi, mitigasi, dan kesiapan warga. Sesar Cimandiri memang bagian dari kehidupan masyarakat Sukabumi, namun bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan. Justru, dengan pengetahuan dan tindakan tepat, kita bisa lebih siap dan selamat. (Redaksi)











