SUKABUMISATU.com – Di balik geliat kawasan industri yang mulai tumbuh di Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, tersimpan sebuah cerita yang jarang terdengar publik. Cerita tentang proyek bandara yang tak kunjung pasti, investasi yang tersendat, dan nasib ribuan calon tenaga kerja yang terus digantung tanpa kepastian.
Sejak pertama kali diumumkan lebih dari lima tahun lalu, rencana pembangunan Bandara Cikembar selalu digaungkan sebagai proyek strategis nasional yang akan mengangkat perekonomian Sukabumi. Namun hingga pertengahan 2025 ini, proyek itu tak lebih dari sekadar wacana di atas meja rapat.
Kawasan Industri Cikembar, yang dikembangkan oleh PT Bogorindo Cemerlang seluas 220 hektare, menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampaknya. Sekitar 70 hektare lahan industri milik mereka bersinggungan langsung dengan area yang tercantum dalam rencana lokasi bandara.
“Dua pabrik sudah jalan, tahun ini harusnya empat lagi. Tapi beberapa investor mundur, karena takut perizinan bermasalah gara-gara status kawasan belum jelas,” ungkap Berlin Sumadi, General Manager PT Bogorindo Cemerlang saat ditemui wartawan, Selasa (26/6/2025).
Bukan sekadar investasi dan bangunan pabrik, kawasan industri ini dirancang menyerap hingga 100 ribu tenaga kerja. Angka yang berarti bagi Sukabumi, daerah yang selama ini menggantungkan hidup dari pertanian, buruh migran, dan sektor informal.
“Jangan bayangkan berapa nilainya, bayangkan saja berapa anak muda Sukabumi yang bisa kerja di sini tanpa harus merantau ke Bekasi atau Jakarta,” kata Berlin.

Isu bandara yang sempat senyap pada 2023, tiba-tiba kembali mencuat awal 2025. Ironisnya, justru di saat kawasan industri mulai bergerak. Pemerintah Kabupaten Sukabumi pun disebut-sebut tak kunjung memberi kepastian, meskipun masterplan revisi kawasan industri sudah diajukan sejak awal tahun.
Dalam sebuah pertemuan virtual pada April 2025, Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan Gubernur Jawa Barat. “Keputusannya kita tunggu dari Pak Gubernur,” ujarnya singkat.
Situasi ini diperparah oleh pernyataan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan yang mengakui bahwa progres pembangunan bandara baru mencapai 20-25 persen karena keterbatasan anggaran. Total kebutuhan proyek diperkirakan mencapai Rp300-400 miliar, di mana 70 persen bersumber dari APBN.
PT Bogorindo Cemerlang pun mempertanyakan urgensi keberadaan bandara di kawasan industri tersebut. Menurut mereka, dengan adanya Tol Bocimi dan proyek rel kereta ganda, kebutuhan logistik sudah tercukupi. Pembangunan bandara dinilai lebih tepat ditempatkan di wilayah selatan Sukabumi yang selama ini menjadi destinasi wisata nasional.
“Kalau memang bandara mau dibangun, kami siap menyesuaikan. Tapi kalau tidak, jangan sampai kawasan industri ini macet hanya karena proyek yang tidak jelas,” tegas Berlin.
Di balik tarik ulur kebijakan itu, nasib masyarakat lokal yang menggantung jadi cerita sunyi yang jarang diungkap. Ribuan calon tenaga kerja, sebagian besar lulusan SMA dan SMK, berharap bisa bekerja di kawasan industri tanpa harus merantau jauh.
“Orang kampung sini cuma ingin kerja di kampungnya sendiri. Tapi kalau peluang kerja disini disandera isu yang nggak jelas, ya kami juga yang dikorbankan,” keluh Deden (23), warga Cikembar, lulusan SMK yang sejak tahun lalu berharap bisa bekerja di salah satu pabrik di kawasan itu.
Dalam Perpres 87 Tahun 2021, proyek Bandara Cikembar memang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional bersama Bandara Pangandaran. Tapi hingga kini, proyek ini tak lebih dari catatan di kertas dan bahan presentasi rapat. Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) disebut sudah dihubungi, tapi tindak lanjutnya masih kabur.
Di lapangan, masyarakat, pengusaha, dan calon tenaga kerja justru menjadi korban ketidaktegasan kebijakan dan tarik ulur kepentingan.
“Jangan sampai nama strategis nasional dipakai untuk menggantung harapan rakyat kecil,” pungkas Berlin.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi terbaru dari Pemkab Sukabumi maupun Kementerian Perhubungan soal kejelasan proyek Bandara Cikembar.
Reporter : Candra
Editor : Demmy Pratama











