28 Miliar Antropometri Untuk Stunting, Balita Sukabumi Tewas Akibat Cacingan

Gambar Ilustrasi dan Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat.

SUKABUMISATU.com – Kabupaten Sukabumi pada 2023 mendapat kucuran Dana Alokasi Khusus (DAK) lebih dari Rp28 miliar. Uang sebesar itu habis untuk membeli alat antropometri, perangkat ukur stunting berupa timbangan, pengukur tinggi badan, hingga pita lingkar lengan.

 

Alat itu seharusnya menyelamatkan balita dari risiko gizi buruk. Faktanya, seorang anak bernama Raya (3) justru meninggal dunia dalam kondisi memilukan—perutnya kosong, tubuhnya ringkih, dan dipenuhi cacing gelang yang keluar dari hidung, mulut, hingga anus.

 

Tercatat, Tapi Tak Terselamatkan

Sejak bayi, Raya sudah masuk kategori Bawah Garis Merah (BGM). Berat badannya terpantau di posyandu. Data ada, catatan ada, tetapi tindak lanjut tidak pernah ada.

Baca Juga  Kirab Mahkota Binokasih 2026: Menelusuri Jejak Sejarah dari Jampang hingga ke Jantung Galuh

Raya hanyalah angka di tabel antropometri: terukur, tapi tak terselamatkan.

 

Ironi Proyek

Video 9 menit yang diunggah Rumah Teduh, lembaga filantropi yang mengevakuasi Raya, viral dengan lebih dari 9,8 juta kali ditonton. Warga dibuat terenyuh: seorang bocah tanpa identitas resmi maupun BPJS terbaring di ICU, mati perlahan dalam kemiskinan sanitasi.

Padahal, pada saat yang sama, miliaran rupiah digelontorkan untuk alat ukur yang tak pernah berubah menjadi intervensi nyata: makanan bergizi, akses kesehatan, atau lingkungan hidup yang layak.

 

Gubernur Jabar Geram

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan kecewa dan akan menjatuhkan sanksi. Ia menyebut fungsi PKK, posyandu, dan bidan desa di kampung Raya lumpuh total.

Baca Juga  Sinergi demi Indonesia Emas 2045, Kajati Jabar Dampingi Jamintel Beri Pembekalan Kepemimpinan di IPDN

“Anak ini tercatat sakit sejak lama. Tapi fungsi posyandu dan kebidanan tidak berjalan. Ini kelalaian,” tegas KDM dalam sosial media pribadinya.

 

Data Tanpa Nyawa

Kasus Raya menelanjangi wajah buram program stunting: uang habis, data rapi, laporan cantik. Tapi di balik angka, ada anak-anak yang tetap kurus, lemah, dan mati dalam diam.

Antropometri di Sukabumi hanya berhenti pada data, bukan solusi. Dan nyawa Raya menjadi bukti paling telak: proyek telah berjalan, tapi seorang balita mati sia-sia. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *