Sukabumi Diserbu Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Jalur Sebaran dan Imbauan Resminya

Ilustrasi Abu Vulkanik

SUKABUMISATU.com, SUKABUMI — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat sejak Jumat (4/9/2026) malam. Selain memicu lontaran lava pijar dan dentuman keras, erupsi ini melepaskan kolom abu vulkanik tinggi yang pergerakannya terdeteksi hingga wilayah Sukabumi, Jawa Barat, pada Sabtu (5/9/2026).

Fenomena perpindahan material vulkanik lintas perairan ini dapat dijelaskan melalui dinamika atmosfer, struktur ketinggian kolom erupsi, serta tipe erupsi yang terjadi.

Kronologi Peristiwa: Hujan Abu Lintasi Selat Sunda ke Jawa Barat

Aktivitas erupsi terekam intensif mulai Jumat pukul 23.07 WIB hingga Sabtu pukul 04.40 WIB. Berdasarkan pantauan citra satelit oleh komunitas relawan Info Gempa Dunia, pergerakan konsisten abu vulkanik ke arah tenggara menuju Sukabumi mulai teramati sekitar pukul 12.30 WIB hingga 13.30 WIB.

Guna mengantisipasi dampak partikel mikro abu terhadap saluran pernapasan, masyarakat di wilayah Sukabumi diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Baca Juga  Wilayah Sukabumi Berpotensi Diguyur Hujan Pagi hingga Malam Hari Ini 18 Januari

Penjelasan Sains: Dua Klaster Altitudo dan Pergerakan Angin

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin menganalisis pergerakan abu menggunakan data citra Satelit Himawari-9.

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik terbagi menjadi dua klaster altitudo akibat perbedaan arah dan kecepatan angin di tiap lapisan atmosfer:

Klaster

Ketinggian Kolom Abu

Arah Pergerakan

Cakupan Wilayah Terdampak

Klaster 1

Permukaan – 20.000 kaki (~6 km)

Tenggara hingga Selatan

Banten, Jawa Barat (termasuk Sukabumi), dan Selat Sunda

Klaster 2

Permukaan – 50.000 kaki (~15 km)

Barat Daya hingga Barat Laut

Lampung, Bengkulu, dan Samudra Hindia

Dinamika angin troposfer pada lapisan bawah (di bawah 20.000 kaki) membawa material abu halus mengarah ke tenggara, sehingga melintasi pesisir barat dan daratan Jawa Barat bagian selatan.

Karakteristik Erupsi Strombolian dan Analisis Potensi Tsunami

Dari kacamata vulkanologi, PVMBG mengonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi tipe Strombolian.

Baca Juga  Gempa M 4,9 Pangandaran Terasa Hingga Sukabumi, Begini Penjelasan BMKG

Apa itu Erupsi Strombolian?

Tipe erupsi yang ditandai oleh letupan gas secara berkala di dalam saluran magma. Letupan ini melontarkan cairan magma relatif encer ke udara, menghasilkan “air mancur” lava pijar, bom vulkanik, lapili, serta pelepasan kolom abu.

 

Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menegaskan bahwa erupsi kali ini tidak berpotensi memicu tsunami. Scrutiny ilmiah terhadap geometri Gunung Anak Krakatau menunjukkan beberapa faktor utama:

* Volume Tubuh Belum Masif: Pasca-erupsi dan longsoran besar pada 22 Desember 2018, proses pembentukan kembali (regrowth) tubuh gunung api ini masih relatif kecil.

* Risiko Longsoran Minim: Tidak ada indikasi keruntuhan skala besar pada dinding atau lereng gunung yang dapat memindahkan volume air laut secara mendadak.

Imbauan Kesehatan bagi Warga Sukabumi

Partikel abu vulkanik terdiri dari silika halus, kristal mineral, dan pecahan kaca gunung api (volcanic glass) yang dapat memicu iritasi mata, kulit, serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Baca Juga  Gempa 4,9 SR Guncang Bekasi, Getaran Terasa Hingga Sukabumi dan Bogor

Masyarakat Sukabumi disarankan untuk terus memantau pembaruan resmi dari BMKG dan PVMBG, menutup penampungan air bersih, serta mengenakan masker filter standar (seperti N95 atau masker medis) saat berada di ruang terbuka.

Reporter: Mawaldi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *