Sesar Cimandiri Terus Bergerak, Warga Bantargadung Jalani Puasa Ramadan di Pengungsian

Penyintas Pergerakan Tanah Bantar Gadung. Minggu, (28/02/26).

SUKABUMISATU.com – Ramadhan tahun ini terasa sangat berbeda, bahkan memilukan bagi sejumlah warga di Kampung Cijarian, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Alih-alih menikmati hangatnya suasana sahur dan buka puasa di rumah sendiri, mereka terpaksa harus beribadah di tengah keterbatasan pengungsian akibat bencana pergeseran tanah.

​Gemeretak dinding yang retak dan lantai yang amblas pada Sabtu malam (28/2/2026) menjadi “alarm” pahit bagi warga RT 003 RW 006. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Sukabumi selama beberapa hari terakhir telah merenggut kenyamanan hunian mereka tepat di saat bulan suci sedang berjalan.

Sahur dalam Kecemasan

​Bagi keluarga Bp. Sarhini (64), Ibu Een (59), dan Bp. Sahir (34), malam-malam Ramadan kini tak lagi dilalui dengan tenang. Ketiganya merupakan kepala keluarga yang rumahnya masuk kategori Rusak Berat, sehingga mereka harus mengungsi demi keselamatan nyawa.

Baca Juga  104 KK Mengungsi Akibat Pergerakan Tanah, Makan Sahur dan Buka Puasa Bergantung pada Dapur MBG

​”Sangat menyedihkan, mereka harus menjalankan ibadah puasa di tempat pengungsian karena kondisi rumah sudah tidak memungkinkan untuk ditempati. Retakan pada dinding dan lantai terus bertambah luas setiap harinya,” lapor P2BK Bantargadung, Sihabudin, usai meninjau lokasi pada Minggu (1/3/2026).

​Suasana sahur yang biasanya penuh kehangatan keluarga, kini berganti dengan rasa waspada. Setiap suara rintik hujan yang turun di tengah malam seolah menjadi ancaman baru bagi tanah yang mereka pijak.

Data Kerusakan di Satu RT

​Berdasarkan asesmen terbaru di lapangan, pergeseran tanah ini berdampak signifikan pada pemukiman warga:

  • ​Rusak Berat (Mengungsi): 3 KK (Keluarga Bp. Sarhini, Ibu Een, Bp. Sahir).

  • ​Rusak Sedang: 2 KK (Keluarga Bp. Lukman dan Bp. Abdul Majid).

  • ​Rusak Ringan: 3 KK (Keluarga Bp. Herlandi, Ajis Junaedi, dan M. Shisui Al Ghifari).

​Total ada belasan jiwa yang kini menggantungkan hidup pada bantuan dan solidaritas tetangga serta pemerintah daerah.

Baca Juga  Di Balik Tabir Tanjakan Baeud: Benarkah "Raksasa Hitam" dan "Napas Air" yang Menggerakkan Bumi?

Menanti Uluran Tangan di Bulan Suci

​Meski cuaca terpantau cerah pada Minggu siang, kondisi tanah di Desa Bantargadung masih sangat labil. P2BK Bantargadung terus melakukan pemantauan berkala dan berkoordinasi dengan Koramil serta Polsek setempat untuk memastikan keselamatan warga.

​Di tengah menjalankan ibadah puasa, kebutuhan mendesak sangat dinantikan oleh para penyintas, mulai dari:

  • ​Logistik Sembako (untuk kebutuhan sahur dan buka puasa).
  • ​Bahan Bangunan & Pipa (untuk akses air bersih yang terputus).
  • ​Pengkajian Teknis Tanah (untuk kepastian keamanan lokasi).

​”Kami mengetuk pintu kemanusiaan di bulan yang penuh berkah ini. Warga saat ini sangat membutuhkan bantuan darurat,” tambah Sihabudin.

​Ramadan adalah bulan ujian, namun bagi warga Kampung Cijarian, ujian tahun ini sungguh nyata—berpuasa di atas tanah yang sedang bergerak, sembari berharap ada keajaiban agar rumah mereka bisa kembali berdiri kokoh.

Baca Juga  56 Kepala Keluarga di Cibadak Meminta Direlokasi, Akibat Pergerakan Tanah Yang Terus Mengancam

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *