SUKABUMISATU.com — Gonjang-ganjing internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kini kian terang benderang. Di tengah mencuatnya faksionalisme dan tarik-menarik kepentingan di tingkat nasional, DPC GMNI Sukabumi Raya angkat suara. Sekretaris DPC GMNI Sukabumi Raya, Rify Zulhadzilillah, secara tegas menyatakan bahwa fragmentasi yang terjadi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai Marhaenisme yang menjadi fondasi ideologis GMNI sejak kelahirannya.
Dalam pernyataan sikapnya yang dirilis pada 30 Juli 2025, Rify menyoroti bahwa GMNI kini tengah kehilangan arah akibat ambisi kelompok dan pertarungan ego individu. Ia mengingatkan bahwa GMNI bukan ruang transaksi politik kekuasaan, melainkan wadah pembentukan kader bangsa yang berpihak pada rakyat tertindas—kaum Marhaen.
“Fragmentasi ini tidak hanya melemahkan kekuatan struktural organisasi, tetapi juga mengancam ruh asas perjuangan Marhaenisme yang seharusnya menjadi pemersatu seluruh kader GMNI di Indonesia,” ujar Rify dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, ia mendesak agar seluruh kader GMNI di seluruh penjuru negeri kembali ke garis ideologis perjuangan dan menjadikan persatuan sebagai prioritas utama. Menurutnya, semangat kolektif harus mengalahkan ego sektoral.
“GMNI tidak boleh kehilangan arah hanya karena ambisi pribadi. Ini bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tapi tentang siapa yang paling setia pada rakyat Marhaen,” tegasnya.
Rify menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa GMNI masih memiliki cadangan moral, intelektual, dan ideologis yang cukup untuk kembali bersatu dan menjadi pelopor perubahan sosial. Ia menilai fragmentasi yang terjadi saat ini merupakan ancaman serius terhadap amanat sejarah perjuangan kaum Marhaenis.
Pernyataan ini menjadi sorotan publik di tengah dinamika organisasi mahasiswa nasional yang belakangan ini dinilai kian elitis dan menjauh dari basis gerakan rakyat. Suara dari Sukabumi ini menambah daftar panjang kader-kader daerah yang mulai melawan dominasi elit-elit pusat yang dianggap telah menyimpang dari cita-cita pendiri organisasi. (Demi Pratama Adiputra)











