Modal Ratusan Juta, Penjualan Batu Hias Cibadak Anjlok Sejak Pandemi

Batu hias milik pengrajin batu di Cibadak Sukabumi.

Sukabumi – Pasar batu hias yang sempat booming beberapa tahun lalu kini meredup. Para pengrajin dan grosir di Kampung Batu Asih, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mulai merasakan dampaknya.

 

Wawan, pengrajin sekaligus pemilik Galry Eka Stone – CV. Sinar Berkah Alam Indonesia, mengaku usahanya kini jauh berbeda dibanding masa jayanya. Dulu, penjualan batu hias bisa menembus pasar internasional hingga Jepang dan Amerika. Kini, pemasaran justru terseok-seok.

“Dulu sebelum Covid bisa menjual sampai 100 paket per bulan, sekarang paling satu atau dua bulan baru ada yang beli. Itu pun tergantung jenis batu yang diminati,” kata Wawan saat ditemui SUKABUMISATU.com, Sabtu (20/9/2025).

 

Pemasaran dilakukan baik secara online maupun offline, dengan koleksi beragam mulai dari giok, panca warna, oval, hingga bongkahan batu untuk cincin, liontin, atau ukiran. Harga batu pun bervariasi, misalnya bongkahan tiga kilogram dijual Rp100 ribu, belum termasuk ongkos kirim.

 

Namun, persaingan ketat dan tingginya kebutuhan modal membuat bisnis ini tidak semudah dulu. “Modal sampai Rp200 juta pun kalau sepi pembeli tetap terasa berat. Alhamdulillah masih ada saja yang minat, jadi usaha ini masih bisa bertahan,” tambahnya.

Di rumahnya, ribuan batu hias dari Garut, Kalimantan, hingga Sulawesi siap dipasarkan. Keindahan batu-batu tersebut diyakini mampu mempercantik ruangan sekaligus memberi kesan sejuk.

 

Wawan berharap tren batu hias bisa kembali bangkit agar perekonomian masyarakat, khususnya para pengrajin di Kampung Batu Asih, kembali bergerak.

“Kalau pasar ramai lagi, otomatis ekonomi tumbuh dan para pengrajin juga ikut merasakan manfaatnya,” pungkasnya.

 

Reporter: Suhendi Soex

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *