Kamis,12 Februari 2026
Pukul: 04:28 WIB

Menguak Arsip Belanda Tentang Tanah Jawara dan Misteri Teluh di Sukabumi Selatan, Het Ongetembaarde Djampang

Menguak Arsip Belanda Tentang Tanah Jawara dan Misteri Teluh di Sukabumi Selatan, Het Ongetembaarde Djampang

Senin, 12 Januari 2026
/ Pukul: 15:34 WIB
Senin, 12 Januari 2026
Pukul 15:34 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Di balik keindahan bentang alam Djampang Plateau yang dipuja-puji oleh naturalis Franz Junghuhn, tersimpan catatan kelam dalam arsip kolonial Belanda. Bagi pemerintah Hindia Belanda di Batavia, Jampang bukan sekadar urusan geologi, melainkan wilayah yang dicap sebagai “Het Ongetembaarde Djampang” atau Jampang yang Tak Terjinakkan.

​Penelusuran SukabumiSatu.com pada arsip-arsip lama seperti surat kabar De Locomotief dan laporan Residen Priangan, menggambarkan Jampang sebagai wilayah “angker”. Wilayah ini dihuni oleh masyarakat yang sulit ditaklukkan, memiliki ketangguhan fisik luar biasa (kanuragan), hingga kemampuan supranatural yang membuat nyali serdadu Belanda ciut.

Misteri “De Zwarte Magie”: Ketakutan Serdadu Belanda pada Teluh

​Dalam laporan militer yang tersimpan di Nationaal Archief Belanda, para opsir kolonial kerap menulis tentang “De Zwarte Magie van Djampang” (Ilmu Hitam dari Jampang). Mereka mencatat fenomena yang tak masuk akal: serangan penyakit mendadak yang menimpa serdadu saat mencoba memasuki wilayah pedalaman tanpa izin pemimpin lokal.

Baca Juga  Perjuangan Rakyat Jampang Melawan Belanda: Jejak Harta Karun dan Sejarah yang Terkubur

​Bagi Belanda, ini adalah ancaman nyata yang disebut sebagai “Onzichtbare vijanden” atau musuh yang tidak terlihat. Masyarakat Jampang diyakini memiliki kemampuan Teluh—kekuatan mengirimkan benda atau penyakit dari jarak jauh.

​Medan Jampang yang liar dan berhutan lebat menciptakan tekanan psikologis luar biasa bagi tentara Eropa. Rasa frustrasi mereka menghadapi taktik gerilya sering kali dimanifestasikan sebagai ketakutan terhadap kekuatan magis penduduk setempat.

Jimat dari Masa Purba: Kekuatan Fosil “Batu Satam”

​Sisi unik lainnya yang dicatat oleh para pengikut Junghuhn adalah kegemaran para jawara Jampang membawa jimat dari fosil purba atau “Versteende Overblijfselen”.

​Di wilayah Surade dan sekitarnya, penduduk sering menemukan fosil gigi hiu raksasa (Megalodon) atau kayu yang membatu di aliran sungai. Jika di mata Belanda benda itu hanyalah objek paleontologi, di tangan masyarakat Jampang, benda itu menjadi “Azimat”. Mereka percaya fosil tersebut mengandung kekuatan bumi purba yang memberikan kekebalan terhadap senjata tajam atau peluru (ilmu kebal).

Baca Juga  Kisah Pilu Boomingnya Megalodon di Sukabumi, Eksplorasi Serampangan hingga Timbulkan Korban Jiwa

Tokoh Legendaris: Momok Menakutkan bagi VOC

​Dalam catatan kolonial, terdapat dua nama besar yang dianggap sebagai “Oproerling” (pemberontak) paling merepotkan karena karisma mistisnya:

​Haji Prawatasari (Raden Alit Prawatasari): Pemimpin gerilya awal abad ke-18 (1703-1707). Belanda mencatatnya memiliki “Bovennatuurlijke krachten” (kekuatan supernatural). Ia dikenal mampu menghilang di tengah hutan (ilmu Halimun) dan membuat ekonomi kopi VOC di wilayah Jampang lumpuh total. Belanda menjulukinya sebagai pengguna “Duivelse kunsten” (seni iblis/sihir).

​Angga Nata: Muncul dalam Dagh-Register VOC tahun 1701. Ia adalah pemimpin lokal yang “Hardnekkig” (keras kepala). Setiap kali pasukan Belanda memasuki wilayahnya, mereka sering disambut serangan penyakit misterius atau perubahan cuaca yang mencekam secara tiba-tiba.

“Het Bolwerk van Jawara”: Benteng Pertahanan Akhir

​Jampang juga berfungsi sebagai “Het Bolwerk van Djampang”, wilayah pengungsian terakhir bagi para pejuang. Jika seorang pemberontak dikejar di utara Sukabumi, mereka akan lari ke selatan menuju benteng alam ini.

Baca Juga  Surade, Jejak Peradaban Kuno dan Surga Geologi di Selatan Sukabumi

​Di sini, hukum kolonial seolah berhenti berlaku. Para pemimpin lokal yang menguasai ilmu Kanuragan memimpin pengikutnya dengan kedaulatan penuh. Belanda bahkan sering dikhianati oleh informan lokal yang mereka rekrut, karena loyalitas penduduk Jampang kepada pemimpinnya jauh lebih kuat daripada rasa takut pada kompeni.

Antara Fakta dan Legenda

​Klaim Belanda mengenai “liarnya” masyarakat Jampang sebenarnya merupakan bentuk pengakuan atas kegagalan mereka menundukkan semangat kemerdekaan penduduk setempat.

​Hingga kini, narasi Jampang sebagai pusat kekuatan supranatural tetap hidup. Namun lewat kacamata sejarah, kita melihat bahwa apa yang disebut Belanda sebagai “teluh” atau “sihir” sebenarnya adalah cara masyarakat Jampang menjaga kehormatan tanah air mereka dengan segala kekuatan yang mereka miliki—baik fisik maupun batin.

Penulis: Demi Pratama Adiputra

Sumber: Nationaal Archief, De Locomotief, Dagh-Register VOC.

Related Posts

Add New Playlist