SUKABUMISATU.com – Program Makan Bergizi (MBG) tak sekadar urusan membagikan isi piring kepada anak-anak sekolah. Di balik pemenuhan gizi generasi muda, ada roda ekonomi masif yang berputar—mulai dari cangkul petani, jaring nelayan, hingga kompor-kompor dapur penyedia. Realita inilah yang melandasi deklarasi Asosiasi Pemasok Makan Bergizi Indonesia (APMBI) di Riase Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026) lalu.
Mengusung tema “Membangun Ekosistem Pemasok Pangan Bergizi yang Profesional, Berkualitas, dan Berkelanjutan”, APMBI resmi mengonsolidasikan diri untuk memperkuat rantai pasok pangan nasional dari hulu ke hilir.
Menghubungkan Sawah dengan Dapur
Ketua Umum APMBI, Ridwan Dani, menegaskan bahwa persoalan utama rantai pasok bukan sekadar pengiriman barang, melainkan bagaimana produsen pangan mendapatkan akses pasar secara berkelanjutan serta mampu menjaga konsistensi mutu.
APMBI dirancang untuk merajut keterhubungan antara petani, peternak, nelayan, UMKM, koperasi, hingga pedagang dengan pengelola dapur yang membutuhkan pasokan rutin.
“APMBI hadir untuk membangun mata rantai yang saling menguatkan. Petani, nelayan, pedagang, dan peternak memiliki produk, sementara dapur membutuhkan bahan pangan yang berkualitas dan berkesinambungan. Kami ingin membantu mempertemukan kebutuhan tersebut dalam sebuah ekosistem yang profesional,” ujar Ridwan dalam sambutannya.
Peluang Besar Rantai Pasok di Kabupaten Sukabumi
Lantas, di mana posisi Kabupaten dan Kota Sukabumi dalam peta besar ekosistem ini? Sekretaris Jenderal APMBI yang juga Anggota DPRD Kota Sukabumi, Taufik Muhammad Guntur, menilai Wilayah Sukabumi Raya memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekosistem rantai pasok pangan bergizi berbasis potensi lokal.
Di Kota Sukabumi khususnya, gelombang pelaksanaan MBG kian berkembang. Dalam pertemuan Pemkot dan Pemilik dapur MBG pada Juni 2026, tercatat kehadiran 56 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Sukabumi. Pemerintah daerah juga terus mendorong pemenuhan standar keamanan pangan, higiene sanitasi, perizinan, hingga sertifikasi halal bagi SPPG.
Namun, Kang Taufik—sapaan akrabnya—mengingatkan agar program ini tidak dipandang sempit sebagai proyek penyediaan makanan belaka.
“Program Makan Bergizi jangan hanya dilihat sebagai program menyediakan makanan. Di dalamnya terdapat perputaran ekonomi yang sangat besar. Kami ingin manfaat ekonominya turun sampai kepada petani, peternak, nelayan, UMKM, koperasi, dan pemasok lokal Sukabumi,” ungkap Taufik saat dihubungi Sukabumisatu.com Senin, (28/09/2026).
Memaksimalkan Potensi Produksi Lokal
Sebagai daerah yang memiliki basis produksi pangan yang luas—mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga hortikultura dan buah-buahan—Kabupaten Sukabumi mempunyai kekuatan besar untuk menopang kebutuhan pangan bergizi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan potensi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di wilayah Sukabumi yang kaya. Menurut Taufik, keberadaan rantai pasok yang terintegrasi akan membuka kran pasar baru bagi hasil produksi masyarakat lokal.
“Kabupaten Sukabumi mempunyai kekuatan produksi yang sangat luas. Kalau mampu dihubungkan dalam rantai pasok yang baik dengan pusat-pusat konsumsi dan dapur penyedia, kebutuhan pangan bergizi justru dapat menjadi pasar baru bagi produk masyarakat Sukabumi,” jelasnya.
Pemetaan Kebutuhan dan Pembenahan Standar
Sebagai langkah konkret, APMBI berencana melakukan pemetaan kebutuhan pangan SPPG di Kota dan Kabupaten Sukabumi dan menyandingkannya dengan kapasitas produksi lokal. Melalui pemetaan ini, dapat diketahui komoditas mana yang sanggup dipenuhi secara mandiri dan komoditas apa yang masih memerlukan pasokan pendukung.
Di sisi lain, Taufik menegaskan bahwa keberpihakan kepada produk lokal harus berjalan beriringan dengan peningkatan profesionalisme para pelaku usaha. APMBI berkomitmen mendorong pelaku usaha lokal untuk meningkatkan legalitas, standar mutu, keamanan pangan, kemampuan logistik, kontinuitas pasokan, manajemen usaha, hingga ketertelusuran produk (trace ability).
“Target akhirnya sederhana: petani mendapatkan pasar, peternak dan nelayan berkembang, UMKM dan pemasok naik kelas, dapur memperoleh pasokan yang berkualitas, dan anak-anak mendapatkan makanan bergizi yang aman. Kalau rantai ini berjalan, program gizi sekaligus menjadi penggerak ekonomi daerah,” pungkas Taufik. (dmy)












