SUKABUMISATU.com, Sukabumi — Dalam diskursus pendidikan anak, pembentukan spiritualitas dan ketangkasan fisik sering kali diletakkan pada dua kutub yang berseberangan. Anak-anak kerap dituntut memilih: fokus pada capaian keagamaan atau menekuni jalur olahraga. Namun, narasi tunggal tersebut berhasil didobrak oleh Raffandra Adhyyastha Ferdinand.
Siswa kelas lima SDIT Adzkia 1 Kabupaten Sukabumi ini membuktikan bahwa hafalan Al-Qur’an dan performa akuatik mampu berjalan beriringan tanpa saling melegitimasi subordinasi satu sama lain.
Raffandra baru saja menuntaskan kompetisi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang olahraga renang tahun ajaran 2025/2026. Perjalanannya melintasi lintasan renang tidaklah singkat—dimulai dari seleksi ketat tingkat kecamatan, melaju mewakili Kabupaten Sukabumi, hingga bertanding di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Berawal dari Eksplorasi, Tumbuh Melalui Habituasi
Prestasi Raffandra di lintasan renang tidak terbangun dari ambisi instan. Eksplorasinya di kolam renang dimulai saat ia masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Kala itu, renang hanyalah aktivitas pengisi waktu luang tanpa orientasi kompetitif.
“Awalnya saya berenang itu cuma coba-coba waktu kelas 2. Lama-lama saya suka dan ingin terus belajar supaya bisa lebih baik,” ujar Raffandra.
Melihat ada daya lentur dan konsistensi pada minat sang anak, orang tuanya memfasilitasi minat tersebut melalui pelatihan terstruktur. Ayah Raffandra, Feri Perdinan, menegaskan bahwa pendekatan yang diterapkan keluarga berfokus pada ruang tumbuh yang sehat, bukan beban target.
“Awalnya memang hanya mencoba. Kami sebagai orang tua melihat Raffandra memiliki ketertarikan di renang, sehingga kami berusaha mendukung dengan memberikan fasilitas les renang. Yang terpenting bagi kami, dia menjalani dengan senang, disiplin, dan tetap bertanggung jawab terhadap pendidikan,” kata Feri.
Secara metrik formal, keputusan memberikan pelatihan terukur tersebut berbuah manis. Namun, di luar catatan waktu renang, habituasi kedisiplinan itu ternyata mentransfer dampak positif pada dimensi kehidupan Raffandra yang lain: aktivitas keagamaan.
Dimensi Transendental: Ketika Mental Olahragawan Bertemu Hafalan Al-Qur’an
Di luar statusnya sebagai atlet renang muda, Raffandra adalah seorang hafidz Al-Qur’an. Ketahanan mental (mental endurance) yang terbentuk di lintasan renang berbanding lurus dengan ketekunan yang dibutuhkan dalam menjaga memori hafalan Al-Qur’an (muroja’ah).
Relevansi keagamaan Raffandra teruji secara publik ketika ia dipercaya menjadi imam dalam lomba shalat berjamaah Pendidikan Agama Islam (PAI), sebuah kompetisi beregu yang mengharuskan ketenangan pimpinan dan ketepatan tajwid, hingga berhasil menembus tingkat Kabupaten Sukabumi.
Bagi Raffandra, internalisasi nilai antara olahraga dan hafalan Al-Qur’an memiliki benang merah yang sama: kedisiplinan dan kesabaran.
“Saya senang bisa ikut renang dan juga belajar Al-Qur’an. Bagi saya, latihan renang mengajarkan supaya disiplin dan tidak mudah menyerah. Menghafal Al-Qur’an juga harus sabar dan terus mengulang,” tutur siswa berkulit langsat tersebut.
Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya keterampilan lintas disiplin (cross-disciplinary skill). Proses muroja’ah membutuhkan pengulangan tanpa henti, persis seperti teknik kayuhan lengan yang dipraktikkan berulang kali demi menghemat sepersekian detik di kolam renang.
Uji Ekosistem Pendidikan Inklusif
Keberhasilan Raffandra menyeimbangkan dua ranah yang berbeda ini menjadi indikator penting keberhasilan ekosistem pendidikannya. SDIT Adzkia 1 Kabupaten Sukabumi mengambil peran sebagai katalis yang memfasilitasi potensi multidimensi peserta didiknya.
Kepala SDIT Adzkia 1 Kabupaten Sukabumi, Mimin Karmila, S.Pi., menyatakan bahwa institusinya menolak penyeragaman bakat anak.
“Kami sangat mengapresiasi prestasi Raffandra. Ia menunjukkan bahwa seorang siswa bisa memiliki prestasi di berbagai bidang. Di satu sisi ia menekuni olahraga renang hingga mampu melaju ke tingkat provinsi, di sisi lain ia juga memiliki kemampuan dalam Al-Qur’an dan bidang keagamaan,” ungkap Mimin.
Mimin menambahkan, keberhasilan Raffandra merupakan proyeksi dari visi sekolah untuk melahirkan generasi berkarakter unggul yang tak terisolasi dalam satu bidang akademis belaka.
“Kami ingin anak-anak di SDIT Adzkia 1 tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter, kedekatan dengan Al-Qur’an, disiplin, dan keberanian untuk mencoba. Raffandra menjadi salah satu contoh bahwa ketika potensi anak didukung dengan baik, dari sesuatu yang awalnya hanya coba-coba bisa berkembang menjadi sebuah prestasi,” lanjutnya.
Capaian Raffandra menyajikan potret bahwa pencapaian anak-anak Sukabumi tidak harus didefinisikan secara tunggal. Dari riak air di kolam renang hingga lantunan ayat Al-Qur’an, eksplorasi masa muda Raffandra adalah bukti bahwa ruang tumbuh yang tepat mampu melahirkan keseimbangan antara fisik, mental, dan spiritual.
Editor: Demi Pratama Adiputra












