Kisah Pilu di Balik Kepergian Yuswandi, Pendaki Sukabumi yang Meninggal di Gunung Slamet

Prosesi pemakaman pendaki gunung asal Sukabumi yang meninggal di Gunung Selamet. Foto : Suhendi Soek

SUKABUMISATU.com – Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman almarhum Yuswandi (46), pendaki asal Sukabumi yang meninggal dunia saat melakukan pendakian di Gunung Slamet, Jawa Tengah, Sabtu (26/7/2025). Jenazah dimakamkan pada Minggu siang (27/7/2025), di sebuah lahan bekas sawah milik Yayasan Kuttab Alfatih, Kampung Pondoktisuk, Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.

Ratusan pelayat hadir mengantarkan kepergian Yuswandi, mulai dari kerabat, tetangga, hingga komunitas pecinta alam yang mengenal semangatnya dalam mencintai alam bebas.

Anak pertamanya, Ghazi Adias Alghazali (21), tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan ucapan terima kasih mewakili keluarga.

 

“Ayah saya orang yang penuh semangat. Beliau selalu mengajarkan bahwa alam itu bukan untuk ditaklukkan, tapi untuk dikenali dan dihargai. Kami merasa kehilangan, tapi kami ikhlas. Ini sudah jalan Allah,” ujarnya lirih.

 

Baca Juga  Nasib Rio, Bocah 11 Tahun yang Terlunta-lunta Usai Coba Mencuri: Ditolak Ayah Kandung, Ibu Tak Mampu Rawat

Yuswandi dikenal di kalangan pendaki lokal sebagai sosok penyabar dan tangguh. Bersama istrinya, ia kerap mendaki gunung-gunung besar di Pulau Jawa seperti Merbabu, Gede, Sindoro, hingga Ciremai. Pendakian ke Gunung Slamet merupakan perjalanan mereka yang terakhir bersama.

Meninggalkan seorang istri dan tiga anak, Yuswandi disebut-sebut sebagai sosok ayah teladan yang dekat dengan keluarga dan sangat mencintai kesederhanaan.

“Sebelum berangkat, ayah hanya bilang: jaga salat, jaga ibu. Itu yang paling saya ingat,” kenang Ghazi.

Prosesi pemakaman berlangsung sederhana namun penuh khidmat. Tak sedikit rekan pendaki yang menyampaikan doa dan pesan perpisahan. Beberapa di antaranya bahkan sempat mendaki bersama Yuswandi di perjalanan-perjalanan sebelumnya.

“Kami kehilangan sahabat sejati. Beliau selalu jadi yang pertama bangun saat di tenda, selalu ingatkan kami tentang etika mencintai gunung dan meninggalkan jejak kebaikan,” ujar rekannya dari komunitas pendaki Sukabumi.

Sejak kabar duka ini beredar, simpati mengalir dari berbagai kalangan, termasuk dari komunitas pecinta alam se-Jawa Barat yang menyampaikan belasungkawa melalui media sosial.

Baca Juga  ​31 Tahun Terbaring Membusuk hingga Digerogoti Belatung, Kisah Warga Pondok Kaso Parungkuda

 

Tragedi ini juga menjadi pengingat bahwa setiap pendakian memiliki risiko. Gunung Slamet, meski menjadi favorit para pendaki, memiliki kontur jalur yang panjang dan ekstrem. Tak hanya itu, di sepanjang jalur tidak tersedia sumber air, dan kabut dapat turun sewaktu-waktu dengan ketebalan yang menyulitkan jarak pandang.

Editor: Demi Pratama Adiputra

Reporter: Suhendi Soek / M.Waldi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *