Harga Aci Tapioka Meroket, Pedagang di Sukabumi Harus Putar Otak Demi Bertahan

Salah satu pedagang bakso di Cibadak Sukabumi.

SUKABUMISATU.com, CIBADAK — Aroma gurih kaldu dan kenyalnya cilok hangat menyambut siapa saja yang melintas di kawasan Labora, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Di balik gerobak sederhana itu, tangan Siti (45) tak pernah berhenti terampil mengadoni adonan aci. Namun, di balik senyum ramahnya kepada para pelanggan, tersimpan gundah yang kian hari kian menyesakkan dada.

​Bukan karena pembeli yang sepi, melainkan karena bahan baku utama dagangannya yang kini melonjak ugal-ugalan.

​”Biasanya beli tepung tapioka itu antara Rp7.000 sampai Rp8.000 untuk satu kilo. Tapi sekarang, ya Allah, rasanya pengin nangis kalau pas belanja, harganya sampai Rp20.000 per kilo di tingkat kami,” ungkap Siti saat ditemui di lapak dagangannya, Minggu (8/11/2026) siang.

​Lonjakan harga yang dirasakan sejak akhir Oktober hingga awal November 2026 ini membuat Siti benar-benar berada di posisi buah simalakama. Sebagai pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari setiap butir cilok yang terjual, ia tak punya banyak pilihan.

Baca Juga  Dapur MBG Kembali Berjalan, Harga Ayam Potong di Sukabumi Merangkak Naik

​”Bingung juga. Kalau tidak beli tepung, mau mengadon pakai apa? Mau tidak mau, ya harus tetap dibeli demi bisa jualan,” keluhnya dengan nada pasrah.

​Terjepit di Antara Modal dan Porsi

​Kenaikan harga si “tepung aci” ini nyatanya bukan Isu belaka. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, harga rata-rata tepung tapioka memang meroket hingga 30 persen—dari kisaran Rp10.000–Rp14.000 menjadi Rp16.000–Rp18.000 per kilogram. Di tingkat pedagang eceran lapis bawah, jalur distribusi membuat harganya bahkan melambung lebih tinggi lagi.

​Dampak paling nyata dirasakan oleh Dede (38), seorang pedagang cilor (aci telor) yang biasa mangkal di kawasan pertokoan depan Stasiun Cibadak. Demi menyelamatkan dapur agar tetap ngebul, Dede terpaksa mengambil keputusan pahit: menghentikan sementara penjualan porsi ikonik seribuan rupiah.

Baca Juga  Dapur MBG Kembali Berjalan, Harga Ayam Potong di Sukabumi Merangkak Naik

​”Sekarang minimal jual porsi yang Rp5.000-an. Yang Rp1.000 enggak dulu, karena harga aci lagi mahal banget,” tutur Dede sambil membalikkan cetakan cilor di atas wajan panasnya.

​Bagi Dede dan kebanyakan pedagang kaki lima lainnya, porsi Rp1.000 adalah magnet bagi anak-anak sekolah dan warga sekitar yang ingin menikmati jajanan merakyat. Namun, mempertahankan porsi murah di tengah amukan harga modal sama saja dengan mencari kerugian. Keuntungan yang menipis membuat mereka harus cerdik memutar otak, meski harus mengorbankan sebagian kecil pelanggan setianya.

​Harapan di Balik Kepulan Asap Gerobak

​Bagi Siti, Dede, dan ribuan tangan kreatif UMKM di Cibadak, tepung tapioka bukan sekadar komoditas dagang. Ia adalah denyut nadi kehidupan, nyawa dari dapur-dapur kecil yang menghidupi keluarga mereka setiap hari.

​Di tengah kerasnya persaingan ekonomi dan daya beli masyarakat yang kian berhati-hati, para pedagang kecil ini hanya bisa memendam satu harapan sederhana. Mereka mendambakan tangan-tangan penentu kebijakan mampu mengendalikan harga kembali stabil.

Baca Juga  Dapur MBG Kembali Berjalan, Harga Ayam Potong di Sukabumi Merangkak Naik

​Sebab, di setiap kepulan uap gerobak cilok dan cilor di sudut-sudut Cibadak, tersimpan doa agar mereka tak harus terus-menerus dihadapkan pada pilihan sulit: gulung tikar, atau kehilangan senyum pelanggan setianya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *